silahkan mengklik

December 15, 2009

Sebelas Penyakit Pergerakan


1.  Karena kenalan lama, teman sekampung, sahabat karib, orang yang dicintai, rekan lama atau bawahan lama, maka sekalipun tahu jelas bahwa mereka itu salah, tidak juga mengadakan perdebatan secara berprinsip dengan mereka, melainkan membiarkannya saja demi perdamaian dan keakraban. Atau dibicarakan secara sepintas lalu dan tidak diselesaikan secara mendalam untuk memelihara suasana damai. Akibatnya baik organisasi maupun perseorangan dirugikan.
2.  Mengkritik di belakang secara tidak bertanggung jawab dan bukan aktif mengajukan saran-saran kepada organisasi. Bungkam di depan orangnya tetapi megoceh di belakangnya; tutup mulut di dalam rapat tetapi mengobrol sesudah rapat. Tidak mengindahkan prinsip kehidupan kolektif, melainkan bertindak liberal saja.
3.  Tidak ambil pusing terhadap soal-soal yang tidak menyangkut diri sendiri. Menganggap lebih baik tidak banyak bicara sekalipun tahu betul apa yang salah, berlaku cerdik untuk cari selamat dan hanya berusaha untuk tidak berbuat salah.

December 11, 2009

Ki Hadjar Dewantara


1. ANAK YANG BANDEL
       Ki Hajar Dewantara sewaktu kecil bernama Raden Mas Suwardi Suryaningrat dan ia lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1899. Ayahnya bernama Pangeran Suryaningrat, putra sulung Adipati Paku Alam III. Ibunya seorang putrid Kraton Yogyakarta. Sang ibu memiliki keahlihan mengobati orang sakit dan ibadahnya yang kuat.
     Dari silsilah itu, Suwardi adalah seorang priyayi atau ningrat. Namun ia tidak suka di anggap sebagai priyayi. Ia bergaul dengan anak biasa.
      Temannya pun berterima kasih kepada Suwardi dan ia berkata “Lain kali begini lagi ya, Den Mas!”. “memang kamu suruh aku jadi pencuri?” Kata Suwardi. “Inikan sama saja mencuri!”. Suwardi pun terseyum malu
      Suwardi dan teman-teman sering berkelahi melawan para Sinyo. Sinyo yaitu anak laki-laki Belanda. Karena Sinyo suka menghina atau bertindak semena-mena kepada orang pribumi.
       Suatu siang ketika pulang sekolah, ia melihat Sutartinah di ganggu Karel dan teman-temannya, anak orang Belanda.
      “Hei Karel! Sinyo jahat,jelek! Kalau berani hadapi aku jangan ganggu Sutartinah.” tantang Suwardi dengan marah.
       “Lawan saja Karel!”teriak kawan dari Belanda. Berapa kali Sinyo ditamparnya.
      Akhirnya perkelahian itu bubar. Suwardi dan Sutartinah di pangil polisi Belanda. Sejaksaat itu mereka berdua menjalin hubungan baik. Sutartinah adalah anak pamannya sendiri, Pangeran Sastraningrat.
     Mula-mula Suwardi masuk ELS atau Sekolah anak orang-orang Belanda dan anak ningrat. Setelah lulus, ia melanjutkan ke Stovia atau Sekolah Dokter Jawa di Batavia (Jakarta).
     Sekolah di Stovia tidak sampai tamat karena beasiswanya di cabut karena ia jarang masuk karena sakit.

2. DIBUANG KE NEGRI BELANDA
    Setelah berhenti dari sekolah Stovia, Suwardi lalu berpindah-pindah kerja. Mula-mulanya di pabrik gula. Tidak lama kemudian pindah ke apotek.

GARIS MASSA

Ini adalah diktat untuk KPS dan KPSS tentang "Pembangunan Partai" 
disusun oleh Depagitprop CC PKI
Djakarta 1958

PKI ADALAH ANAK ZAMAN

Penanaman kapital di Indonesia pada sedjak achir abad ke-XIX meningkat dengan tjepat, jang membawa perubahan besar dalam kehidupan ekonomi dan sosial di Indonesia. Untuk mengerdjakan bahan² mentah, imperialisme Belanda mendirikan pabrik², membikin pelabuhan² dan djalan² kereta-api. Tetapi, semuanja itu se-kali² bukanlah untuk memadjukan Indonesia, melainkan untuk mengintensifkan penghisapan kolonial terhadap Rakjat Indonesia.
Dengan demikian pengaruh kapitalisme mendjadi merasuk kedalam masjarakat Indonesia, jang mendorong lahirnja klas² baru dalam masjarakat Indonesia, jaitu : Klas proletar, intelektuil dan burdjuasi Indonesia.
Lahirnja klas proletar mendorong berdirinja organisasi serikatburuh. Dibanjak tempat di Indonesia mulai berdiri serikatburuh², seperti serikatburuh pelabuhan, serikatburuh kereta-api, serikatburuh pertjetakan dan serikatburuh² di-pabrik² lainnja.
Pada tahun 1905 berdirilah serikatburuh kereta-api jang bernama SS-Bond (Staats-Spoor Bond). Dalam tahun 1908 berdirilah Perkumpulan Pegawai Spoor dan Trem (Vereniging van Spoor en Tram Personeel - VSTP), suatu serikatburuh kereta-api jang militan ketika itu.
Serikatburuh² ini merupakan sekolah² politik bagi massa kaum buruh. Tetapi, perdjuangan serikatburuh adalah perdjuangan jang terbatas untuk memenuhi kebutuhan² langsung daripada para-anggotanja, untuk perbaikan upah dan sjarat² kerdja, suatu perdjuangan jang terbatas pada soal² sosial ekonomi. Kesedaran jang diperoleh lewat aksi² dan pemogokan² belumlah mentjapai tingkat kesedaran-klas jang sempurna, tetapi baru pada tingkat kesedaran pertentangan antara mereka sebagai buruh-upahan terhadap madjikannja itu sendiri jang memeras tenaganja, tingkat kesedaran jang elementer, kesedaran jang masih terbatas untuk memperdiuangkan nasibnja sendiri, nasib golongannja.
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan gerakan buruh, kesedaran politik dan orgarisasi klas buruhpun meningkat pula. Klas buruh menghendaki suatu organisasi jang tidak hanja membatasi diri pada perdjuangan serikatburuh, sebab hanja dengan organisasi serikatburuh, sistim kapitalisme, jang merupakan sumber kemiskinan dan kesengsaraan bagi seluruh massa pekerdja, tidaklah dapat ditumbangkan. Untuk menumbangkan sistim kapitalisme, klas buruh harus mendjalankan perdjuangan politik jang revolusioner, klas buruh harus mempunjai partai politik.
Tingkat kesedaran klas buruh inilah jang mendorong berdirinja suatu partai politik, jang merupakan alat untuk memperdjuangkan tjita² dan politik daripada klas buruh. Partai politik klas buruh ini tidaklah hanja untuk memimpin perdjuangan klas buruh guna perbaikan upah dan sjarat² kerdja kaum buruh, akan tetapi sampai dengan untuk merombak susunan masjarakat jang memaksa seseorang jang tidak bermilik harus mendjual tenaganja kepada kaum kapitalis.
Pada bulan Mei tahun 1914 di Semarang telah berdiri Perkumpulan Sosial-Demokratis Indonesia (Indische Sociaal Democratische Vereniging - ISDV), suatu organisasi politik jang menghimpun intelektuil² revolusioner bangsa Indonesia dan Belanda. Tudjuannja jalah untuk menjebarkan Marxisme dikalangan kaum buruh dan Rakjat Indonesia. Perkumpulan Sosial-Demokratis Indonesia inilah jang pada tanggal 23 Mei tahun 1920 berubah nama mendjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Lahirnja PKI merupakan peristiwa jang sangat penting bagi perdjuangan kemerdekaan Rakjat Indonesia. Pemberontakan kaum tani jang tidak teratur dan bersifat perdjuangan se-daerah atau se-suku dalam melawan imperialisme Belanda, jang terusmenerus mengalami kegagalan, sedjak PKI berdiri, mendjadi diganti dengan perdjuangan proletariat jang terorganisasi dan jang memimpin perdjuangan kaum tani dan gerakan revolusioner lainn]a.
Petjahnja Revolusi Oktober di Rusia tahun 1917 sangat berpengaruh pada proletariat Indonesia. Lahirnja PKI dan perkembangannja tidaklah dapat dipisahkan dari pengaruh kemenangan Revolusi Oktober itu.
Kemenangan Revolusi Oktober Besar di Rusia itu telah membangkitkan kesedaran Rakjat² djadjahan. Revolusi Oktober, memberi kejakinan kepada Rakjat Indonesia, bahwa imperialisme Belanda pasti dapat digulingkan, dan Rakjat Indonesia akan dapat mendirikan negara Indonesia jang bebas dan merdeka.
Djadi Partai Komunis Indonesia lahir dalam zama imperialisme, sesudah di Indonesia ada klas buruh, sesudah di Indonesia berdiri serikatburuh² dan Perkumpulan Sosial Demokratis Indonesia, jaitu organisasi politik jang pertama daripada kaum Marxis Indonesia, sesudah Revolusi Oktober tahun 1917.
Lahirnja PKI bukanlah suatu hal jang kebetulan, melainkan suatu hal jang sesuai dengan perkembangan sedjarah, suatu hal jang wadjar. PKI adalah anak zaman jang lahir pada waktunja.

IDEOLOGI PARTAI KOMUNIS
Apakah idologi itu?
Ideologi adalah tjita² dan pandangan² jang menjatakan kepentingan² suatu klas. Didalam masjarakat modern, masjarakat kapitalis, pada pokoknja terdapat dua klas. Klas kapitalis, jaitu mereka jang memiliki alat2 produksi, jang tidak bekerdja dan hidup dari menghisap kerdja kaum buruh. Klas buruh, jaitu mereka jang tidak memiliki alat2 produksi, bekerdja keras pada kapitalis, tetapi tidak mendapat hasil jang tjukup untuk hidup jang lajak.
Bagaimana ideologi klas kapitalis?

SEJARAH GERAKAN MAHASISWA INDONESIA

SEJARAH GERAKAN MAHASISWA INDONESIA
Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa, Yogyakarta, 08 April 2008: Terry Pangul

I. ZAMAN BERGERAK 1912 - 19262

“BERJUANG MELAWAN KEKUASAAN = BERJUANG MELAWAN LUPA”

Salam dan Bahagia
Gerakan Rakyat yang tampil dalam bentuk-bentuk seperti surat kabar dan jurnal, rapat dan pertemuan, serikat buruh dan pemogokan, organisasi dan partai, nyanyian, teater, novel dan pemberontakan, merupakan fenomena yang paling mencolok bagi kebangkitan “Bumiputra” pada awal abad XX. Fenomena yang sampai saat ini disebut sebagai “pergerakan”, dimana “Bumiputra” bergerak mencari bentuk, untuk menampilkan kesadaran politik mereka yang baru, menggerakan pikiran dan gagasan, dan mengahadapi kenyataan di Hindia (Indonesia pada masa itu) dalam dunia dan zaman yang mereka rasakan bergerak. Dalam Historiografi ortodoks yang diyakini bersama baik oleh orang-orang Indonesia maupun para Indonesianist (ahli tentang Indonesia), pergerakan sering dilihat sebagai gerakan dimana sebuah bangsa yang belum bernama sedang mencari namanya; Indonesia, dan cita-cita nasionalnya; Indonesia merdeka !
Dalam pandangan ini, Pergerakan dimulai dengan surat-surat R.A Kartini dan pembentukan Boedi Oetomo, ketika kebangkitan nasional pertama kali ditampilkan dalam bentuk organisasi, dan berakhir dengan didirikanya Perhimpunan Indonesia dan Partai Nasional Indonesia serta Sumpah Pemuda, ketika para pemuda menyatakan diri Bertanah Air satu, Berbangsa satu dan Berbahasa Satu. Dengan begitu dalam dua puluh lima tahun pertama abad XX, pergerakan dipandang sebagai sebuah transisi, denagan pengertian bahwa telah ada gagasan Nasional sekalipun belum benar-benar nasionalis. Dalam sejarah dapat dipahami melalui hasil yang kemudian dicapai, yaitu ditemukannya cita-cita nasional; Indonesia merdeka. Hasil lain adalah tradisi yang terbentuk dalam pergerakan yakni sistem pembagian yang berdasarkan ideology dan organisasi menjadi nasionalisme, islam, dan komunisme.3
Pada masa itu lahir berbagai macam organisasi pergerakan. Masing-masing berproses secara mandiri dan dengan tahapan yang baik untuk bisa disebut sebagai Organisasi pergerakan sehingga menjadi organisasi kader berbasis massa. Syarat minimal sebagai tahapan tersebut adalah IPO: Ideologi/gagasan, Program perjuangan, dan organisasi. Sebagai contoh: Sarekat Islam (SI). SI tumbuh dan berkembang dari Rekso Roemekso pada awal 1912. Rekso Roemekso, yang didirikan oleh Haji Samanhoedi besama beberapa saudara, teman dan pengikutnya, adalah sebuah perkumpulan tolong-menolong untuk menghadapi para kecu yang membuat daerah Lawean tidak aman, agaknya karena pencurian kain batik yang dijemur dihalaman tempat pembuatan batik. Seperti yang diperlihatkan oleh namanya, “penjaga “, adalah sebuah organisasi ronda untuk keamanan daerah.
Rekso Roemekso, sebuah organisasi ronda dibungkus dalam bahasa modern dan diberi nama baru, Sarekat (Dagang) Islam. Hal itu dikarenakan kasus hukum kolonial pada saat itu yang melarang munculnya organisasi politik sehingga diimbuhi kata dagang. Pendirinya: Tirtoadhisoerjo, K.H Samanhoedi dan beberapa yang lain, pada 9 November 1911. Dalam bunyi pengantar AD/ART pembentukan SI : “semua orang sudah tahu bahwa sekarang ini adalah zaman kemajuan tidak boleh hanya menjadi omong kosong saja. Untuk itu kami memutuskan untuk membentuk perkumpulan Sarekat Islam. “artikel 1 anggaran dasar ini menyatakan bahwa perkumpulan dapat didirikan di mana saja dengan lima puluh anggota, dan tujuan perkumpulan harus “membuat anggota perkumpulan sebagai saudara satu sama lain, memperkuat solidaritas dan tolong-menolong di antarumat Islam, dan mencoba mengangkat rakyat untuk mencapai kemakmuran, kesejahteraan, dan kejayaan raja melaui segala cara yang tidak bertentangan dengan hukum negara dan pemerintahan.”….
Organisasi terus berkembang hingga mencapai Ratusan ribu anggota pada masa itu. Dibagi dalam Afdeling (dewan daerah) masing masing. Dan setiap afdeling mampu melakukan Vergadering (Rapat umum di sebuah lapangan luas antara pemimpin organisasi dan Massa simpatisannya) dengan jumlah anggota yang hadir hingga puluhan ribu orang. Melakukan aksi-aksi pemogokan, pemboikotan, penyebaran surat kabar, berkesenian dan lain-lain.
Semua dapat dicapai melalui keseriusan dan disiplin yang baik sebagai modal utama keberhasilan pengorganisasian dan pencapaian program perjuangan yang bertahap dan jangka panjang. Hal itu berkat adanya gagasan yang kuat, organisasi/kerjasama yang baik dan Program perjuangan yang jelas dan bertahap.
Pada Zaman itu kita mengenal Tokoh-tokoh sebagai motor penggerak perubahan yang terlahir dari kebijakan Politik Etis Kolonial. Para tokoh merupakan kalangan terdidik pada masa itu, mereka adalah pelajar dan mahasiswa lulusan dalam dan luar negeri yang memiliki kesadaran akan nasib bangsa dan tanah airnya. Namun, tidak semua tokoh yang ada merupakan Intelektual Jebolan sekolahan. Kita mengenal nama seperti Semaun yang lahir dari didikan/kader HOS Tjokroaminoto. Juga Soekarno. Selain sekolah Ia matang dalam asuhan Tjokro dan Organisasi (Sarekat Islam), satu lagi murid Tjokro adalah Karto Soewirjo. Ketiganya dikemudian hari berhasil menyemaikan tiga pondasi kuat gagasan besar nasionalisme oleh Soekarno Dengan PNI-nya, Semaun dengan Komunismenya (PKI), dan Kartosoewirjo dengan Islamismenya. Hal itu tak terlepas dari didikan Tjokro yang mengarahkan pemahaman sosial masing-masing dengan pengetahuan/gagasan besar seperti Marxisme (Sosialisme dan komunisme), Pemikiran Islam dan tokoh-tokoh pemikir Islam juga gagasan kebangsaan yang sedang berserak di hampir semua negara terjajah (Koloni Imperialis) di wilayah Asia dan Afrika. Juga ada sederet tokoh besar dan legendaris lainnya seperti: Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, dll (baca buku-buku yang banyak beredar saat ini.)
Itulah sekilas ciri khas pergerakan kaum muda yang dimotori kaum tercerahkan oleh pengetahuan dan pergaulan Organisasi yang membebaskan pada massa Sebelum kemerdekaan.



II. ZAMAN REVOLUSI KEMERDEKAAN

Hasil Dari perjuangan Tokoh penggerak adalah kemerdekaan bangsa dan tanah air dari kolonialis Eropa, dan Jepang. Sesudah kemerdekaan ada dua perubahan yang terjadi yang pertama bersifat nominal: Munculnya cara pandang Indonesia dengan mengganti Kata kunci yang sering didengungkan pada masa kolonialisme. Seperti Hindia Belanda menjadi Indonesia, Inlanders (bumiputera) menjadi “Orang Indonesia”, pergerakan bumiputra menjadi kebangkitan nasional Indonesia, dll. Perubahan kedua yang lebih penting adalah: lahirnya sistem klasifikasi baru yang berdasarkan Organisasi dan Ideologi: nasionalisme, Islam dan komunisme. Perubahan ini terjadi karena kategori rasial jelas bersifat kolonial, jadi jelas harus ditolak, dan juga karena sistem klasifikasi nasionalisme, Islam, dan komunisme sudah menjadi sesuatu yang diterima umum sejak pertengahan dekade 1920-an dalam wacana politik Indonesia.

December 10, 2009

mengetahui kekibulan dari kedipan mata

Banyak orang yang peka dengan bahasa tubuh manusia dan terlatih intuisinya untuk menerka apakah seseorang berbohong atau tidak, tapi hanya sedikit yang bisa menjelaskan bagian mana yang membuat mereka yakin, “pokoknya tau aja!”.

Sebuah penelitian yang dilakukan Dr. Sharon Sheal dari Portsmouth University, Inggris, menunjukkan bahwa orang-orang yang berbohong akan lebih jarang berkedip ketika sedang menyampaikan kebohongannya. Menurut Dr. Sheal, ini disebabkan karena mereka membutuhkan konsentrasi dan usaha yang lebih keras untuk menciptakan cerita yang konsisten dan dapat dipercaya.

Karena hal itu pula, setelah selesai berbohong mereka juga akan cenderung berkedip lebih sering (sampai 8 kali lipat) dibandingkan dengan orang yang tidak berbohong…yang diduga Dr. Leal sebagai semacam sarana pelepasan setelah sebelumnya menahan kedipan mata.


December 8, 2009

PERGAULAN BEBAS DALAM PERSEPSI SOSIAL REMAJA


PERGAULAN BEBAS DALAM PERSEPSI SOSIAL REMAJA
Sebagai Salah Satu tugas Mata Kuliah Seminar Psikologi
Dosen Pengampu
Dra. Hj. S. Hafsah, M.Si








Disusun Oleh
Walterius Rahmin Janu
26 011 005

Fakultas Psikologi
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2009

Kata Pengantar
Puji dan syukur pertama penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, juga kepada dosen mata kuliah seminar psikologi karena telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menulis makalah pergaulan bebas dalam persepsi sosial remaja. Tak lupa juga kepada kawan-kawan yang turut mendukung penulis dalam menyelesaikan pengerjaan makalah ini.
Dalam pengerjaan makalah pergaulan bebas dalam persepsi sosial remaja ini, penulis sadar dan yakin bahwa hasil yang telah ada masih jauh dari kesempurnaan, dan karenanya dengan hati lapang penulis sangat mengharapkan masukan atau kritikan dari semua pihak guna kemajuaan menuju kesempurnaan bagi penulis dalam mengerjakan karya-karya berikutnya.
Akhir kata penulis mengucapkan selamat membaca.
Salam

Penulis


Bab I
Latar Belakang Masalah
Realita lapangan
Pergaulan pasca milenium atau pada abad 21 di kalangan remaja di indonesia khususnya di wilayah yogyakarta dan jawa tengah sangatlah memprihatinkan. Rasa prihatin ini disampaikan atau dirasakan oleh pihak-pihak yang merasa lebih memahami atau yang memiliki pandangan lain tentang pergaulan bebas. Alvin Emanuela, peneliti dari UGM yang meneliti tentang pergaulan bebas remaja usia SMA yang dalam hasil penelitianya pada beberapa SMA swasta dan negeri di Yogyakarta menemukan bahwa pergaulan di kalangan remaja tidak memiliki batas yang pasti atau bebas dalam arti seluas-luasnya. Beberapa remaja putri di salah satu SMA swasta di Yogyakarta menyatakan bahwa pergaulan bebas adalah suatu bentuk pergaulan atau relasi sosial yang terjadi kapan dan dimana saja serta dengan siapa saja, baik dengan sesama jenis, lawan jenis, dengan yang muda maupun yang tua, dalam kepentingan apa saja yang penting bisa tercipta komunikasi yang baik.
Dalam hasil penelitian mahasiswa FISIPOL universitas Atma Jaya yogyakarta mengatakan bahwa pergaulan remaja sekarang lebih bebas daripada pergaulan remaja 4 atau 5 tahun yang lalu, terbukti dari hasil penelitiannya mengatakan bahwa dari 50 responden yang dilakukan penelitian sebanyak 30 responden atau sebagian besar menganggap pergaulan bebas merupakan suatu cara bergaul tanpa batas. Dikatakan bebas dalam artian bahwa orang bergaul dengan siapa saja, dimana saja dan kapan saja agar dapat mengekspresikan dirinya dengan cara apa saja. Dari pernyataan beberapa responden di atas peneliti menarik kesimpulan singkat bahwa para remaja bergaul bebas sebebas-bebasnya dengan menghalalkan berbagai cara.
Tingginya kasus penyakit HIV/AIDS, khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya akibat pergaulan bebas. Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual. Di kota Denpasar dari 633 pelajar SLTA yang baru duduk di kelas II, 155 orang atau 23,4% mempunyai pengalaman hubungan seksual. Mereka terdiri atas putra 27% dan putri 18%. Data statistik nasional mengenai penderita HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 75% terjangkit hilangnya kekebalan daya tubuh pada usia remaja.
Demikian pula masalah remaja terhadap penyalahgunaan narkoba semakin memprihatinkan. Berdasarkan data penderita HIV/AIDS di Bali hingga Pebruari 2005 tercatat 623 orang, sebagian besar menyerang usia produktif. Penderita tersebut terdiri atas usia 5-14 tahun satu orang, usia 15-19 tahun 21 orang, usia 20-29 tahun 352 orang, usia 30-39 tahun 185 orang, usia 40-49 tahun 52 orang dan 50 tahun ke atas satu orang.
Semakin memprihatinkan penderita HIV/AIDS memberikan gambaran bahwa, cukup banyak permasalahan kesehatan reproduksi yang timbul di antara remaja. Belum lama ini ada berita seputar tentang keinginan sekelompok masyarakat agar aborsi dilegalkan, dengan dalih menjunjung tinggi nilai hak azasi manusia. Ini terjadi karena tiap tahunnya peningkatan kasus aborsi di Indonesia kian meningkat, terbukti dengan pemberitaan di media massa atau TV setiap tayangan pasti ada terungkap kasus aborsi. Jika hal ini di legalkan sebgaimana yang terjadi di negara-negara Barat akan berakibat rusaknya tatanan agama, budaya dan adat bangsa. Berarti telah hilang nilai-nilai moral serta norma yang telah lama mendarah daging dalam masyarakat. Jika hal ini dilegalkan akan mendorong terhadap pergaulan bebas yang lebih jauh dalam masyarakat.
Kesenjangan
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh perusahaan riset Internasional Synovate atas nama DKT Indonesia melakukan penelitian terhadap perilaku seksual remaja berusia 14-24 tahun. Penelitian dilakukan terhadap 450 remaja dari Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 64% remaja mengakui secara sadar melakukan hubungan seks pranikah dan telah melanggar nilai-nilai dan norma agama. Tetapi, kesadaran itu ternyata tidak mempengaruhi perbuatan dan prilaku seksual mereka. Alasan para remaja melakukan hubungan seksual tersebut adalah karena semua itu terjadi begitu saja tanpa direncanakan.
Pada zaman modren sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem nilai yang lain yang bertentangan dengan nilai moral dan agama. Seperti model pakaian (fashion), model pergaulan dan film-film yang begitu intensif remaja mengadopsi kedalam gaya pergaulan hidup mereka termasuk soal hubungan seks sebelum nikah dianggap suatu kewajaran.
Pergaulan bebas yang sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya merupakan “persepsi cara bergaul yang salah” dari para remaja sekarang. Pernyatan ini dikemukakan oleh salah satu mahasiswi lulusan 2006 disalah satu AKPER swasta di Yogyakarta dalam penelitiannya yang berjudul “persepsi pergaulan bebas bagi para remaja dan akibatnya”. Disini peneliti lebih melihat side efect dari pergaulan bebas itu sendiri, karena dalam hasil penelitiannya ditemukan banyak remaja putri yang hamil sebelum nikah atau yang lebih dikenal dengan istilah trendnya MBA (married by accident) akibat pergaulan bebas. Pergaulan bebas yang dimaksudkan disini bukan lagi bergaul dengan siapa saja dan dimana saja dari sisi positif tetapi lebih kepada bergaul dengan lawan jenis dan bebas berbuat apa saja tanpa ada orang yang menghalangi keinginan dari kedua insan untuk melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan, inilah sisi negatif dari suatu pergaulan bebas.
Idealita
Sejatinya pergaulan bebas memiliki batas-batas yang jelas dan bukan sebebas-bebasnya orang bergaul, dalam artian bahwa seseorang atau sekelompok orang dalam bergaul atau pergaulannya baik pada level masyarakat atau kelompok social, sekolah ataupun pada tempat kerja memiliki norma atau etika pergaulan. Sejauhmana orang harus berhubungan dengan orang lain dalam batas kewajaran yang ada dan diakui atau dianggap bagus menurut nilai moral dan agama pada suatu wilyah tertentu atau local. Dengan adanya ketentuan norma social dan agama yang ada dalam suatu masyarakat social akan meminimalisir terjadinya pergaulan bebas yang sebebas-bebasnya atau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Seperti seks pranikah, aborsi, HIV /AIDS serta persoalan lainnya.

KONSEP DIRI LESBIAN BUTCH

Gay, Lesbian, dan Transeksual

Kenyataan bahwa gadi-gadis bisa berhasil dalam sisa hidupnya sebagai pria menjelaskan satu hal, bahwa lingkungan sosial dan pendidikan mereka memiliki pengaruh yang terbatas dalam kehidupan dewasa mereka. Jelas, keadaan biologis merekalah yang merupakan faktor kunci dalam menciptakan pola perilaku mereka.

Homoseksualitas : Keturunan atau Pilihan
Allan Pease, penulis bukuBody Language dan Anne Moir seorang ahli Genetika penulis buku Brainsex. Mereka memaparkan hasil dari penelitiaannya yang memperjelas apa yang telah diketahuipara ilmuwan selama ini, bahwa sifat-sifat homoseksualitas ada sejak lahir, jadi bukan merupakan sebuah pilihan individu.
Tidak saja homoseksualitas itu ada sejak lahir, namun lingkungan tempat kita dibesarkan memgang peran lebih kecil dalam pembentukan perilaku kita daripada yang pernah kita kira sebelumnya. Para ilmuwan telah menemukan bahwa sebenarnya tidak ada pengaruh sama sekali usaha yang dilakukan orangtua untuk menekan kecendrungan homoseksual pada anak remajanya ataunya yang sudah dewasa. Penyebab utamanya adalah pengaruh hormon pria (atau kekurangan hormon tersebut) pada otak, maka itu tidaklah heran kalau kebanyakan orang homoseksual adalah pria.

Perbedaan Lesbian
Jika otak sebuah janin wanita secara kebetulan menerima tambahan hormon pria, maka hal itu akan membuat pusat pengendaliaan perkawinan pada otak menjadi maskulin. Itu artinya bahwa sebagai seorang wanita, dia akan lebih tertarik pada wanita lainnya. Jika pusat pengendaliaan perilakunya juga menjadi maskulin, dia akan bersikap, berbicara dan memiliki bahasa tubuh seperti pria, dan mungkin juga akan disebut butch ( pacar wanita).
Jika pusat pengendalian perilakunya tidak diubah oleh hormon pria, maka yang terjadi adalah sebaliknya; wanita itu akan tetap bersifat feminim, tetapi masih tertarik pada wanita lain. Sementara lesbian butch dapat terlihat dengan mudahsebagai hasil dari biologi mereka.
Lesbian butch ternyata memiliki konsep diri yang positif karena mereka menerima orientasiseksual mereka sebagai lesbian tapi tidak menginginkan perubahan bentuk fisik menjadi laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki penerimaan diri yang baik atas kondisinya yang tidak sesuai dengan harapan mayoritas orang di lingkungan heteroseksual.

Tinjauan Gerakan Mahasiswa Kontemporer

Uraian

Salam dan bahagia

Dalam kehidupan bangsa Indonesia, pergerakan mahasiswa telah menjadi sebuah kekuatan dalam menyonsong perubahan. Hal ini dapat kita lihat bila kita mengingat pergerakan mahasiswa pada tahun 1965-1966 ketika berhasil menuntut pembubaran PKI yang akhirnya membuat pemerintahan Soekarno jatuh dan selanjutnya digantikan oleh pemerintahan Soeharto. Pada awalnya, Soeharto mengijinkan adanya gerakan dari mahasiswa namun sejak peristiwa malari, Soeharto mengeluarkan perturan yang melarang gerakan mahasiswa keluar dari kampus. Mulai saat itu setiap kebijakan Soeharto menjadi sulit untuk diawasi oleh mahasiswa bahkan Soeharto cenderung menggunakan pendekatan yang bersifat koersif seperti yang dilakukan oleh Soeharto lewat kekuatan militer. Semisal ketika ABRI melakukan pemukulan terhadap mahasiswi UI, ketika Jendral A.H Nasution berpidato di kampus UI salemba pada tahun 1980. Pemerintahan orde baru yang otoriter terus terjadi hingga akhirnya pada tahun 1998, pemerintahan Soeharto dengan OrBa-nya berhasil digulingkan oleh mahasiswa setelah terjadi kerusuhan masal dan terjangan badai krisis ekonomi. Amien Rais berpendapat “mahasiswa sudah sampai ambang batas kesabaran melihat terlalu senjangnya apa yang didengar dengan yang dilihat. Mereka mendengar slogan-slogan bagus dari petinggi di negeri ini tentang pemerintahan yang bersih dan berwibawa, kepedulian terhadap rakyat. Namun, kenyataannya, bertentangan dengan apa yang terjadi. Mereka melihat pamer kemewahan dari para petinggi. Ini bertentangan dengan harapan-harapan mereka. Karena itu harus dilakukan rekonstruksi mental supaya kemunafikan itu bisa dikikis.”
Sejarah telah membuktikan bahwa pergerakan mahasiswa berhasil membawa kehidupan yang lebih baik termasuk saat merubah orde lama ke orde baru dan saat membawa orde baru ke zaman reformasi. Namun hal ini yang menjadi ironi ketika para mahasiswa angkatan 1966 dan 1998 harus gugur dalam unjuk rasa dalam melakukan perjuangan untuk membawa bangsa Indonesia yang lebih baik tetapi di satu sisi lain pergerakan mahasiswa setelah berhasil menggulingkan Soeharto, secara kualitas dan kuantitas mengalami penurunan. Pergerakan mahasiswa saat ini seperti hanya menjalankan sebuah rutinitas dan terperangkap dalam romantisme pergerakan masa lalu.
Pengertian mengenai pergerakan mahasiswa hanya sebagai rutinitas adalah pergerakan mahasiswa saat ini seperti ingin mencoba mengikuti pergerakan mahasiswa sebelumnya tanpa memiliki ruh yang jelas dalam visi, misi, maupun platform gerakan. Pergerakan mahasiswa saat ini hanya seperti pergerakan yang didorong atas dorongan ingin melanjutkan rutinitas dari pergerakan mahasiswa masa lalu. Hal tersebut berdampak pada mandulnya pergerakan mahasiswa dalam melakukan berbagai advokasi peningkatan kesejahteraan rakyat. Pergerakan mahasiswa terperangkat pada jargon mahasiswa sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat, tanpa mengetahui kondisi real dari masyarakat dan pemerintah itu sendiri. Hal tersebut menjadi ironi karena kita menjadi penghubung di antara dua “benda” yang tidak kita ketahui karakteristiknya. Keadaan tersebut justru pada akhirnya menurunkan kredibilitas dari pergerakan mahasiswa. Menurunya kredibilitas dari pergerakan mahasiswa dapat kita lihat dari berbagai opini yang ada di masyarakat dalam melihat pergerakan mahasiswa. Pergerakan mahasiswa hanya dipandang sebagai sebuah elemen dekonstruktif dalam pembentukan sistem negara Indonesia.

Pernikahan, Cinta dan ………..

…aku menginginkan keterbukaan, kejujuran dan hubungan monogami. Aku benci pria yang suka main-main!’

Umumnya pasangan terdiri dari seorang pria dan seorang wanita, dan ini merupakan konsep hidup manusia sejak dahulu yusuf…eh sory dahulu kala maksudnya.Biasanya, itu merupakan suatu aturan yang berbentuk seorang pria memelihara wanita kesayangannya dan jika ia mampu memberi mereka makan, ia juga akan mempunyai beberapa wanita lagi, ditambah serangkaian hubungan seksual di luar itu.
Pernikahan modern merupakan sebuah ciptaan dari impian ideal menurut Judeo-Christian dan merupakan ending dari sebuah pencariaan. Dengan meyakinkan dua orang dewasa untuk bersetia pada serangkaian peraturan yang meminta kepatuhan kepada Mori Keraeng (Tuhan) maka anak-anak hasil pernikahan akan secara otomatis terlahir dan beragama seperti orangtua mereka (pendapat klasik biasanya seperti ini, namun untuk zaman sekarang orangtua akan berpikir dua kali jika ingin mengunakan konsep klasik ini). Ketika kegiatan manusia mana pun, diselimuti oleh ritual-ritual yang rumit dan deklarasi umum, biasanya itu berlawanan dengan biologis kita dan ritual itu juga memaksa orang untuk melakukan apa yang tidak biasanya mereka lakukan.
Burung-burung tidak memerlukan upacara rumit ketika mereka ‘kawin’, meski itu adalah kegiatan alamiah mereka. Untuk memaksakan hewan poligamus seperti bendol…….eh salah ‘mbeeeeee’ (kambing) jantan agar menyetujui sebuah kontrak untuk menikahi seekor mbe betina itu adalah hal yang sama anehnya.
Ini bukan untuk mengatakan bahwa pernikahan tidak ada artinya bagi masyarakat modern. Saya, penulis juga akan menikah.

Pernikahan memiliki sisi baik. Mengajarkan Anda akan kesetiaan, kesabaran, toleransi, penguasaan diri dan kebaikan-kebaikan lainya yang tidak Anda perlukan jika Anda tetap melajang.
Apa sich keuntungan pernikahan bagi seorang pria? Dalam istilah dasar evolusioner, toe keta manga (tidak ada sama sekali). Seorang pria seperti seekor ayam jantan yang memiliki desakan untuk menebarkan benih keturunan seluas mungkin dan sesering mungkin. Namun mayoritas pria masih menikah dan pria yang bercerai akan menikah lagi atau hidup dalam pura-pura menikah. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan masyarakat yang hebat untuk mengendalikan pria yang memiliki dorongan untuk ngedeng (bersetubuh/bersenggama) dengan sipa saja. Lebih cocok dengan pendapat klasik yang mengatakan bahwa ‘laki-laki ingin bercinta tanpa dihalangi cinta’, perempuan hanya ingin bercinta atas dasar cinta, pengecualiaan ketika perempuan itu placur yang professional.

Seks adalah harga yang dibayar wanita untuk pernikahan. Pernikahan adalah harga yang dibayar pria untuk seks.
Ketika ditanya apa yang ditawarkan pernikahan pada anda? Kebanyakan pria akan menggumam sesuatu tentang memiliki tempat pulang yang hangat dan aman, makanan yang dimasakan bagi mereka, pakayan mereka disetrika. Pada umumnya mereka menginginkan sosok ibu sekaligus pelayan pribadi.
Psikoanalisa, Sigmund Freud mengatakan bahwa pria seperti itu mungkin memiliki hubungan ibu/anak laki-laki dengan istrinya. Hanya sekitar 22 orang dari seratus pria yang mengatakan bahwa mereka memperlakukan pasangan mereka sebagai sahabat. Sahabat dari seorang pria biasanya laki-laki juga, karena saling mengerti proses berpikir masing-masing.

December 7, 2009

Imperialisme

Memperkenalkan Konsep Lenin tentang Imperialisme

Pengantar

Imperialisme adalah satu kata yang termasuk paling banyak dipakai dalam khasanah kosa kata politik kiri modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir seluruh aspek perjuangan gerakan kiri sekarang ini didominasi oleh perlawanan terhadap imperialisme, atau aspek-aspek yang didorong maju oleh keberadaan imperialisme. Namun demikian, jarang kita temui pembahasan yang menyeluruh terhadap imperialisme dalam khasanah teori gerakan kiri Indonesia. Orang menggunakan kata "imperialisme" namun tidak ada pemahaman bersama, atau setidaknya perdebatan yang seksama, terhadap makna kata tersebut.
Tulisan ini adalah satu upaya untuk menyusun sebuah pemahaman bersama terhadap hakikat dan bentuk-bentuk imperialisme di masa kini. Untuk itu, menurut hemat penulis, kita perlu merujuk terlebih dahulu pada pemahaman tentang imperialisme di masa lalu. Dengan titik berangkat ini, kita dapat mulai mengkritisi teori dan praktek kita sendiri pada masa sekarang _ sekaligus membuat modifikasi-modifikasi ilmiah terhadap teori-praktek yang pernah ada di masa lalu.
Tulisan ini merujuk pada tulisan (Vladimir Ulyanov) Lenin, Imperialism: the Highest Stage of Capitalism. Beberapa tulisan Lenin yang lain, yang digunakannya untuk berpolemik dengan rekan-rekan sejawatnya telah pula digunakan sebagai bahan perbandingan.

Imperialisme sebagai sebuah sistem ekonomi-politik
Pemahaman ini, menurut Lenin, adalah pemahaman dasar bagi sebuah upaya untuk memahami imperialisme secara keseluruhan. Imperialisme merupakan sebuah sistem ekonomi-politik, artinya ia adalah sebuah proses ekonomi yang memiliki perwujudan dalam keputusan-keputusan politik. Ekonomi imperialis dan politik imperialis adalah dua hal yang berbeda dan seringkali saling bertentangan, namun politik imperialis selalu merupakan perwujudan dari proses ekonomi imperialis itu sendiri. Hukum dialektika, kesalingrasukan dari hal-hal yang bertentangan (interpenetration of the opposites), mendiktekan bahwa kedua hal ini tidaklah terpisahkan. Persoalan ini nampak nyata dalam perdebatannya melawan Karl Kautsky, pemimpin utama dari kaum sosial-demokrasi Jerman pada masa itu mengenai hakikat dari Perang Dunia I. Menurut Lenin, kesalahan utama Kautsky dalam memandang imperialisme terletak pada pendapatnya yang "menolak menganggap imperialisme sebagai sebuah "tahapan kapitalisme" dan merumuskannya sebagai sebuah kebijakan yang `lebih disukai' oleh pemodal keuangan, sebuah kecenderungan dari negeri-negeri "industri" untuk menjajah negeri-negeri `agraris'."1
Jadi, menurut Lenin, pemisahan politik imperialis dari ekonomi imperialis akan membawa kita ke dalam oportunisme. Dan bentuk yang paling banyak diambil oleh oportunisme kiri ini adalah chauvinisme-sosial, yakni pembelaan membabi-buta atas kapital domestik yang sedang bertempur dengan kapital internasional. Kita akan kembali pada tema ini di bagian belakang. Dengan demikian, untuk dapat memahami politik imperialis, kita harus terlebih dahulu memahami proses ekonomi imperialis. Kita akan mencoba melakukan hal tersebut dalam bagian berikut ini.

Ciri-ciri Pokok Imperialisme

Peleburan dan Kombinasi Kapital
Menurut Lenin, ciri pertama dan terpenting dari Imperialisme adalah "konsentrasi kekuatan produktif".2 Bukan hanya pemusatan kekuatan produktif dalam satu cabang produksi, yakni perbesaran kapital yang dicurahkan dalam satu perusahaan atau pabrik, melainkan penggabungan beberapa cabang produksi yang dibutuhkan dalam pembuatan satu produk. Di jaman modern ini, bentuk yang pertama disebut lebih dikenal sebagai "monopoli", "kartel" atau "sindikasi". Sedang bentuk yang kedua adalah "konglomerasi".

Pendidikan Yang Membebaskan

Tinjauan Relasi Penguasa Politis Dan Rakyat Dalam Terang Pemikiran Paulo Freire



Salah satu bidang prioritas pembangunan NTT dalam program tiga batu tungku adalah pendidikan yang mempunyai relasi khas dengan masalah kemiskinan. Dengan kata lain, masalah kemiskinan sebagai situasi khas di wilayah ini berdampak pada peningkatan SDM. Kemiskinan di sini terutama kemiskinan yang sudah terstruktur dalam masyarakat. Bagaimanakah caranya kita keluar dari situasi kemiskinan ini? Atau dengan kata lain bagaimana jalannya menuju proses pembebasan? Mungkinkah itu terjadi? Salah satu jalan menuju proses pembebasan adalah pendidikan atau peningkatan SDM.
Pendidikan yang tidak merata dari setiap manusia di tengah gencarnya perkembangan ilmu dan teknologi, secara logis tidak bisa memungkinkan terjadinya suatu relasi yang komunikatif antara sesama manusia. Di sana diskriminasi mudah saja terjadi. Seorang petani yang berpendidikan rendah dengan keterbatasan bahasanya hanya bisa menjalankan relasi yang komunikatif dengan sesama seprofesi. Demikian juga seorang bankir dengan sesama bankir. Ketika seorang politikus berkomunikasi dengan seorang petani, relasi yang dibangun adalah relasi penguasa dan dikuasai. Josef Pieniazek dalam bukunya soal pemberian dalam terang metafisika menguraikan bagaimana relasi seorang penguasa politis dengan rakyatnya. Kekayaan si penguasa adalah wewenang dan kuasa dan kemiskinannya adalah bergantung dari dukungan rakyat. Kekayaan rakyat adalah dukungan, suara yang diberikan kepada si penguasa. Akan tetapi kemiskinannya adalah penguasa menerima kuasanya dari rakyat, tetapi rakyat menerima dari penguasa berupa kemungkinan yang cendrung menindas. Dalam relasi seperti ini diskriminasi tetap saja terjadi karena yang berelasi adalah dua kelompok yang berbeda profesi dan tingkat pendidikan. Pada hal setiap manusia pada dasarnya adalah subjek utuh. Apakah rakyat mempunyai pemerentah yang layak dipunyainya? Pada tahap ini tetap dibutuhkan pemerataan pendidikan agar relasi penguasa politis dengan rakyat terjadi keseimbangan. Makna “pemerataan pendidikan” yang dimaksudkan di sini tidak berarti semua orang harus mengenyam pendidikan di tempat yang sama, atau paling tidak menekuni bidang yang sama, atau lebih radikal semua orang harus menjadi profesional dalam semua bidang, tetapi yang dimaksudkan adalah bahwa melalui pendidikan, sekurang-kurangnya semua orang dapat menjalin komunikasi yang saling membebaskan dan memberdayakan.
John Locke, seorang filsuf Inggris menggemakan pentingnya pendidikan. Locke berpendapat bahwa “sejak lahir manusia merupakan sesuatu yang kosong dan dapat diisi dengan pengalaman-pengalaman yang diberikan lewat pendidikan dan pembentukan yang terus-menerus.” Subjek yang satu akan memperoleh subjektivitas diri yang penuh bila ada subjek lain yang turut menegaskannya. Namun faktor keterbatasan bahasa untuk mengungkapkan pikiran sebagai akibat rendahnya pendidikan menjadi penghalang terjadinya relasi yang timbal-balik. Bedanya tingkat pendidikan menyebabkan terjadinya pembelengguan satu kelompok terhadap kelompok lain. Pribadi atau kelompok yang berpendidikkan tinggi membelenggu dan mengekang pribadi atau kelompok yang berpendidikkan lebih rendah melalui teori-teori dan retorika-retorika argumentatif. Kebebasan pribadi atau kelompok tertentu dicuri, dimanipulasi oleh kelompok lain. Hal ini berarti kebebasan hanya dimiliki oleh sekelompok orang.