silahkan mengklik

December 8, 2009

PERGAULAN BEBAS DALAM PERSEPSI SOSIAL REMAJA


PERGAULAN BEBAS DALAM PERSEPSI SOSIAL REMAJA
Sebagai Salah Satu tugas Mata Kuliah Seminar Psikologi
Dosen Pengampu
Dra. Hj. S. Hafsah, M.Si








Disusun Oleh
Walterius Rahmin Janu
26 011 005

Fakultas Psikologi
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2009

Kata Pengantar
Puji dan syukur pertama penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, juga kepada dosen mata kuliah seminar psikologi karena telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menulis makalah pergaulan bebas dalam persepsi sosial remaja. Tak lupa juga kepada kawan-kawan yang turut mendukung penulis dalam menyelesaikan pengerjaan makalah ini.
Dalam pengerjaan makalah pergaulan bebas dalam persepsi sosial remaja ini, penulis sadar dan yakin bahwa hasil yang telah ada masih jauh dari kesempurnaan, dan karenanya dengan hati lapang penulis sangat mengharapkan masukan atau kritikan dari semua pihak guna kemajuaan menuju kesempurnaan bagi penulis dalam mengerjakan karya-karya berikutnya.
Akhir kata penulis mengucapkan selamat membaca.
Salam

Penulis


Bab I
Latar Belakang Masalah
Realita lapangan
Pergaulan pasca milenium atau pada abad 21 di kalangan remaja di indonesia khususnya di wilayah yogyakarta dan jawa tengah sangatlah memprihatinkan. Rasa prihatin ini disampaikan atau dirasakan oleh pihak-pihak yang merasa lebih memahami atau yang memiliki pandangan lain tentang pergaulan bebas. Alvin Emanuela, peneliti dari UGM yang meneliti tentang pergaulan bebas remaja usia SMA yang dalam hasil penelitianya pada beberapa SMA swasta dan negeri di Yogyakarta menemukan bahwa pergaulan di kalangan remaja tidak memiliki batas yang pasti atau bebas dalam arti seluas-luasnya. Beberapa remaja putri di salah satu SMA swasta di Yogyakarta menyatakan bahwa pergaulan bebas adalah suatu bentuk pergaulan atau relasi sosial yang terjadi kapan dan dimana saja serta dengan siapa saja, baik dengan sesama jenis, lawan jenis, dengan yang muda maupun yang tua, dalam kepentingan apa saja yang penting bisa tercipta komunikasi yang baik.
Dalam hasil penelitian mahasiswa FISIPOL universitas Atma Jaya yogyakarta mengatakan bahwa pergaulan remaja sekarang lebih bebas daripada pergaulan remaja 4 atau 5 tahun yang lalu, terbukti dari hasil penelitiannya mengatakan bahwa dari 50 responden yang dilakukan penelitian sebanyak 30 responden atau sebagian besar menganggap pergaulan bebas merupakan suatu cara bergaul tanpa batas. Dikatakan bebas dalam artian bahwa orang bergaul dengan siapa saja, dimana saja dan kapan saja agar dapat mengekspresikan dirinya dengan cara apa saja. Dari pernyataan beberapa responden di atas peneliti menarik kesimpulan singkat bahwa para remaja bergaul bebas sebebas-bebasnya dengan menghalalkan berbagai cara.
Tingginya kasus penyakit HIV/AIDS, khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya akibat pergaulan bebas. Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual. Di kota Denpasar dari 633 pelajar SLTA yang baru duduk di kelas II, 155 orang atau 23,4% mempunyai pengalaman hubungan seksual. Mereka terdiri atas putra 27% dan putri 18%. Data statistik nasional mengenai penderita HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 75% terjangkit hilangnya kekebalan daya tubuh pada usia remaja.
Demikian pula masalah remaja terhadap penyalahgunaan narkoba semakin memprihatinkan. Berdasarkan data penderita HIV/AIDS di Bali hingga Pebruari 2005 tercatat 623 orang, sebagian besar menyerang usia produktif. Penderita tersebut terdiri atas usia 5-14 tahun satu orang, usia 15-19 tahun 21 orang, usia 20-29 tahun 352 orang, usia 30-39 tahun 185 orang, usia 40-49 tahun 52 orang dan 50 tahun ke atas satu orang.
Semakin memprihatinkan penderita HIV/AIDS memberikan gambaran bahwa, cukup banyak permasalahan kesehatan reproduksi yang timbul di antara remaja. Belum lama ini ada berita seputar tentang keinginan sekelompok masyarakat agar aborsi dilegalkan, dengan dalih menjunjung tinggi nilai hak azasi manusia. Ini terjadi karena tiap tahunnya peningkatan kasus aborsi di Indonesia kian meningkat, terbukti dengan pemberitaan di media massa atau TV setiap tayangan pasti ada terungkap kasus aborsi. Jika hal ini di legalkan sebgaimana yang terjadi di negara-negara Barat akan berakibat rusaknya tatanan agama, budaya dan adat bangsa. Berarti telah hilang nilai-nilai moral serta norma yang telah lama mendarah daging dalam masyarakat. Jika hal ini dilegalkan akan mendorong terhadap pergaulan bebas yang lebih jauh dalam masyarakat.
Kesenjangan
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh perusahaan riset Internasional Synovate atas nama DKT Indonesia melakukan penelitian terhadap perilaku seksual remaja berusia 14-24 tahun. Penelitian dilakukan terhadap 450 remaja dari Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 64% remaja mengakui secara sadar melakukan hubungan seks pranikah dan telah melanggar nilai-nilai dan norma agama. Tetapi, kesadaran itu ternyata tidak mempengaruhi perbuatan dan prilaku seksual mereka. Alasan para remaja melakukan hubungan seksual tersebut adalah karena semua itu terjadi begitu saja tanpa direncanakan.
Pada zaman modren sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem nilai yang lain yang bertentangan dengan nilai moral dan agama. Seperti model pakaian (fashion), model pergaulan dan film-film yang begitu intensif remaja mengadopsi kedalam gaya pergaulan hidup mereka termasuk soal hubungan seks sebelum nikah dianggap suatu kewajaran.
Pergaulan bebas yang sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya merupakan “persepsi cara bergaul yang salah” dari para remaja sekarang. Pernyatan ini dikemukakan oleh salah satu mahasiswi lulusan 2006 disalah satu AKPER swasta di Yogyakarta dalam penelitiannya yang berjudul “persepsi pergaulan bebas bagi para remaja dan akibatnya”. Disini peneliti lebih melihat side efect dari pergaulan bebas itu sendiri, karena dalam hasil penelitiannya ditemukan banyak remaja putri yang hamil sebelum nikah atau yang lebih dikenal dengan istilah trendnya MBA (married by accident) akibat pergaulan bebas. Pergaulan bebas yang dimaksudkan disini bukan lagi bergaul dengan siapa saja dan dimana saja dari sisi positif tetapi lebih kepada bergaul dengan lawan jenis dan bebas berbuat apa saja tanpa ada orang yang menghalangi keinginan dari kedua insan untuk melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan, inilah sisi negatif dari suatu pergaulan bebas.
Idealita
Sejatinya pergaulan bebas memiliki batas-batas yang jelas dan bukan sebebas-bebasnya orang bergaul, dalam artian bahwa seseorang atau sekelompok orang dalam bergaul atau pergaulannya baik pada level masyarakat atau kelompok social, sekolah ataupun pada tempat kerja memiliki norma atau etika pergaulan. Sejauhmana orang harus berhubungan dengan orang lain dalam batas kewajaran yang ada dan diakui atau dianggap bagus menurut nilai moral dan agama pada suatu wilyah tertentu atau local. Dengan adanya ketentuan norma social dan agama yang ada dalam suatu masyarakat social akan meminimalisir terjadinya pergaulan bebas yang sebebas-bebasnya atau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Seperti seks pranikah, aborsi, HIV /AIDS serta persoalan lainnya.
Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia Bab XIV tentang kejahatan terhadap kesusilaan pasal 229 ayat (1) dikatakan bahwa perbuatan aborsi yang disengaja atas perbuatan sendiri atau meminta bantuan pada orang lain dianggap sebagai tindakan pidana yang diancam dengan hukuman paling lama 4 tahun penjara atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
Ayat (2) pasal 299 tersebut melanjutkan bahwa apabila yang bersalah dalam aborsi tersebut adalah pihak luar ( bukan ibu yang hamil ) dan perbuatan itu dilakukan untuk tujuan ekonomi, sebagai mata pencarian, maka hukumannya dapat ditambah sepertiga hukuman pada ayat (1) dia atas.
Apabila selama ini perbuatan itu dilakukan sebagai mata pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan mata pencarian tersebut. Kemudian pada pasal 346 dikatakan bahwa wanita yang dengan sengaja menggugurkan kandungannya atau meyuruh orang lain untuk melakukan hal itu diancam hukuman penjara paling lama empat tahun.
Pada pasal 347 ayat (1) disebutkan orang yang menggugurkan atau mematikan kehamilan seorang wanita tanpa persetujuan wanita itu diancam hukuman paling lama 12 tahun penjara, dan selanjutnya ayat (2) menyebutkan jika dalam menggugurkan kandungan tersebut berakibat pada hilangnya nyawa wanita yang mengandung itu, maka pihak pelaku dikenakan hukuman penjara paling lama 15 tahun.
Dalam pasal 348 ayat (1) disebutkan bahwa orang yang dengan sengaja menggugurkan kandungan seorang wanita atas persetujuan wanita itu diancam hukuman paling lama 15 tahun penjara, dan ayat (2) melanjutkan, jika dalam perbuatan itu menyebabkan wanita itu meninggal, maka pelaku diancam hukuman paling lama 17 tahun penjara. Dengan demikian, perbuatan aborsi di Indonesia termasuk tindakan kejahatan yang diancam dengan hukuman yang jelas dan tegas.


Bab II
Tinjauaan Pustaka
Pengertian
Pergaulan bebas adalah pergaulan dalam arti bergaul secara bebas tetapi masih berada dalam koridor norma social atau moral, agama dan kebudayaan lingkungan sekitar ( Rm. Ichon S.S. Tanis, Pr). Artinya bahwa dalam pergaulan semua harus memiliki aturan mainnya dan harus ada yang mengawasi atau menjdi wasit layaknya dalam sebuah pertandingan.
Pergaulan bebas adalah suatu bentuk pergaulan atau relasi sosial yang terjadi kapan dan dimana saja serta dengan siapa saja, baik dengan sesama jenis, lawan jenis, dengan yang muda maupun yang tua, dalam kepentingan apa saja yang penting bisa tercipta komunikasi yang baik ( persepsi remaja masa kini). Pergaulan bebas yang dimaksudkan disini bukan lagi bergaul dengan siapa saja dan di mana saja dari sisi positif tetapi lebih kepada bergaul dengan lawan jenis dan bebas berbuat apa saja tanpa ada orang yang menghalangi keinginan dari kedua insan untuk melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan, inilah sisi negatif dari suatu pergaulan bebas. Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan pelepasan tanggung jawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Legalisasi aborsi bukan sekedar masalah-masalah kesehatan reproduksi lokal Indonesia, tapi sudah termasuk salah satu pemaksaan gaya hidup kapitalis sekuler yang dipropagandakan PBB melalui ICDP (International Conference on Development and Population) tahun 1994 di Kairo Mesir.
Hasil penelitian juga memaparkan para remaja tersebut tidak memiliki pengetahuan khusus serta komprehensif mengenai seks. Informasi tentang seks (65%) mereka dapatkan melalui teman, Film Porno (35%), sekolah (19%), dan orangtua (5%). Dari persentase ini dapat dilihat bahwa informasi dari teman lebih dominan dibandingkan orangtua dan guru, padahal teman sendiri tidak begitu mengerti dengan permasalahan seks ini, karena dia juga mentransformasi dari teman yang lainnya.
Aspek-aspek
Kurang perhatian orangtua, kurangnya penanaman nilai-nilai agama berdampak pada pergaulan bebas dan berakibat remaja dengan gampang melakukan hubungan suami istri sebelum nikah sehingga terjadi kehamilan dan pada kondisi ketidaksiapan berumah tangga dan untuk bertanggung jawab terjadilah aborsi.
Pada zaman modren sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem nilai yang lain yang bertentangan dengan nilai moral dan agama. Seperti model pakaian (fashion), model pergaulan dan film-film yang begitu intensif remaja mengadopsi kedalam gaya pergaulan hidup mereka termasuk soal hubungan seks di luar nikah dianggap suatu kewajaran.
Pengalaman menarik ditemui, yang semakin mengukuhkan hipotesis bahwa model pergaulan remaja di Yogyakarta cukup "bebas". Pada suatu waktu, penulis menemukan alat- alat tes kehamilan berceceran di bilangan Jalan Babarsari.
Tak berselang lama, sebuah kabar menyatakan ditemukan banyak kondom yang menyumbat saluran air toilet di suatu fakultas. Terakhir, kabar yang tak kalah mencengangkan lagi, pada saat malam tahun baru kemarin, penjualan kondom di apotek-apotek meningkat drastis. Yogyakarta adalah kota pelajar. Banyak remaja yang datang untuk menuntut ilmu. Implikasinya, budaya masyarakat setempat untuk menyediakan jasa indekosan atau pondokan.
Faktor-Faktor
Bebera faktor yang menyebabkan terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja yaitu;
Pertama, Faktor agama dan iman.
Kedua, Faktor Lingkungan seperti orangtua, teman, tetangga dan media.
Ketiga, Pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan.
Keempat, Perubahan Zaman.


Bab III
Pembahasan

Berdasarkan teori dan permasalahan yang ada seharusnya bahwa factor-faktor penyebab munculnya perilaku pergaulan bebas yang salah kaprah seperti orangtua, sekolah, masyarakat, dan agama, sangat penting untuk meningkatkan komunikasi dengan remaja. Pergaulan bebas adalah suatu bentuk pergaulan atau relasi sosial yang terjadi kapan dan dimana saja serta dengan siapa saja, baik dengan sesama jenis, lawan jenis, dengan yang muda maupun yang tua, dalam kepentingan apa saja yang penting bisa tercipta komunikasi yang baik, itulah arti pergaulan bebas menurut beberapa remaja putri masa kini. Pergaulan bebas yang dimaksudkan disini bukan lagi bergaul dengan siapa saja dan di mana saja dari sisi positif tetapi lebih kepada bergaul dengan lawan jenis dan bebas berbuat apa saja tanpa ada orang yang menghalangi keinginan dari kedua insan untuk melakukan segala pergaulan bebas yang sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya merupakan “persepsi cara bergaul yang salah” dari para remaja sekarang. Pernyatan ini dikemukakan oleh salah satu mahasiswi lulusan 2006 disalah satu AKPER swasta di Yogyakarta dalam penelitiannya yang berjudul “persepsi pergaulan bebas bagi para remaja dan akibatnya”. Disini peneliti lebih melihat side efect dari pergaulan bebas itu sendiri, karena dalam hasil penelitiannya ditemukan banyak remaja putri yang hamil sebelum nikah atau yang lebih dikenal dengan istilah trendnya MBA (married by accident) akibat pergaulan bebas. Sesuatu yang mereka inginkan, inilah sisi negatif dari suatu pergaulan bebas. Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan pelepasan tanggung jawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Legalisasi aborsi bukan sekedar masalah-masalah kesehatan reproduksi lokal Indonesia, tapi sudah termasuk salah satu pemaksaan gaya hidup kapitalis sekuler yang dipropagandakan PBB melalui ICDP (International Conference on Development and Population) tahun 1994 di Kairo Mesir.
Hasil penelitian juga memaparkan para remaja tersebut tidak memiliki pengetahuan khusus serta komprehensif mengenai seks. Informasi tentang seks (65%) mereka dapatkan melalui teman, Film Porno (35%), sekolah (19%), dan orangtua (5%). Dari persentase ini dapat dilihat bahwa informasi dari teman lebih dominan dibandingkan orangtua dan guru, padahal teman sendiri tidak begitu mengerti dengan permasalahan seks ini, karena dia juga mentransformasi dari teman yang lainnya.
Kurang perhatian orangtua, kurangnya penanaman nilai-nilai agama berdampak pada pergaulan bebas dan berakibat remaja dengan gampang melakukan hubungan suami istri sebelum nikah sehingga terjadi kehamilan dan pada kondisi ketidaksiapan berumah tangga dan untuk bertanggung jawab terjadilah aborsi. Seorang wanita lebih cendrung berbuat nekat (pendek akal) jika menghadapi hal seperti ini.
Sudah menjadi rahasia umum, kepedulian pemilik indekos terhadap aktivitas penyewa indekos menyebabkan ruang gerak tak pernah bisa diidentifikasi. Sederet alasan klasik yang mengemuka adalah menjaga privasi anak kos. Namun, argumen tersebut tak lebih dari cara pemilik untuk memasarkan kamar inde-kosannya. Tak bisa dibantah, preferensi yang berkembang dalam pembicaraan anak-anak rantau (terutama laki-laki) bahwa inde-kosan dengan peraturan yang cukup mengekang cenderung ditinggalkan. Beberapa konstruksi jender yang membedakan aturan antara laki-laki dan perempuan di pondokan.
Aturan yang berlaku pada pondokan perempuan biasanya lebih ketat. Berbeda halnya dengan pondokan laki-laki yang jauh lebih longgar, misalnya tidak adanya peraturan jam malam, bahkan "diperkenankan" tamu perempuan masuk kamar! Maka, tak heran dalam perkembangannya pergaulan antarlawan jenis di Yogyakarta, terutama di lokalisasi indekosan seperti daerah Seturan, Babarsari, dan Jalan Kaliurang, semakin bebas.
Aktivitas di indekosan sudah mengalami pergeseran, tidak lagi hanya berkutat pada diskusi, belajar kelompok, mendengarkan radio, atau melihat TV. Remaja sekarang sudah biasa melakukan kegiatan di luar norma kesusilaan, mulai dari nonton film biru sampai mabuk-mabukan, bahkan tak jarang "hang out" ke diskotek-diskotek atau "shaker-shaker (pencampur aneka minuman beralkohol). Aktivitas-aktivitas tersebut hanya "perangsang", tahap selanjutnya adalah tindakan-tindakan kriminal yang sering bertebaran di media massa.
Pembunuhan keji, aborsi, perdagangan obat terlarang, perampokan, dan lain sebagainya adalah "output" dari kebebasan di indekosan yang kebablasan. Hendaknya fenomena "indekosan" ini ditangkap dengan sigap oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten, untuk segera memberlakukan peraturan yang menertibkan secara jelas dan tegas.
Ruang abu-abu ("grey area") akan memunculkan keleluasaan elemen masyarakat tertentu untuk melakukan tindakan main hakim sendiri yang cenderung anarkis, seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Beragamnya masyarakat terdiri atas berbagai kelompok dengan pluralisme gaya hidup dan aneka orientasi nilai multikultural, mendesak segera diberlakukannya sebuah peraturan perundang-undangan sebagai institusi mencari keadilan. Sebagaimana yang dituturkan Jurgen Habermas, dalam terpaan badai relativisme nilai-nilai dan meningkatnya risiko disensus dalam masyarakat, hukum dipandang sebagai sabuk pengaman terakhir bagi integritas sosial.
Mengacu pada konsep Habermas, hukum harus dipahami dalam konteks teori komunikasinya. Dalam artian, hukum di satu pihak mampu membuka ruang bagi tindakan-tindakan strategis, sehingga hukum memang dapat dijadikan alat paksa. Di samping itu, hukum pun harus dihasilkan dari konsensus rasional (harus "legitimate"). Dengan posisi tengahnya ini, hukum tidak hanya dapat dipahami dalam wawasan bahasa moral dan bahasa pergaulan yang dipakai oleh masyarakat luas, melainkan juga bahasa sistemis yang dipakai oleh negara dan pasar.



Bab IV
Kesimpulan dan Saran

Telah jelas bagi kita tidak ada dasar bagi Rancangan pembentukan Undang-undang legalisasi aborsi karena hal itu bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, Agama dan Hukum yang berlaku. Legalisasi aborsi akan mendorong pergaulan bebas lebih jauh dalam masyarakat.
Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan pelepasan tanggung jawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Sedangkan dilarang saja masih banyak terjadi aborsi, bagaimana jika hal ini dilegalkan?
Legalisasi akan berakibat orang tidak lagi takut untuk melakukan hubungan intim pranikah, prostitusi karena jika hamil hanya tinggal datang ke dokter atau bidan beranak untuk menggugurkan, dengan kondisi ini dokter ataupun bidan dengan leluasa memberikan patokan harga yang tinggi dalam sekali melakukan pengguguran.
Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana remaja dapat menempatkan dirinya sebagai remaja yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan agama dan norma yang berlaku di dalam masyarakat serta dituntut peran serta orangtua dalam memperhatikan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari anaknya, memberikan pendidikan agama, memberikan pendidikan seks yang benar. Oleh sebab itu permasalahan ini merupakan tugas seluruh elemen bangsa tanpa terkecuali, agar menjadi sebuah proritas dalam penanganannya agar tidak terjadi kematian disebabkan aborsi tersebut.
Bagi kawan-kawan mahasiswa psikologi sangat diharapkan peran sertannya untuk mengkomunikasikan pergaulan bebas yang baik dan benar atau dalam perannya sebagai calon Psikolog mampu memberi gambaran kepada para remaja tentang arti dan makna dari pergaulan bebas.

No comments:

Post a Comment