silahkan mengklik

December 8, 2009

Pernikahan, Cinta dan ………..

…aku menginginkan keterbukaan, kejujuran dan hubungan monogami. Aku benci pria yang suka main-main!’

Umumnya pasangan terdiri dari seorang pria dan seorang wanita, dan ini merupakan konsep hidup manusia sejak dahulu yusuf…eh sory dahulu kala maksudnya.Biasanya, itu merupakan suatu aturan yang berbentuk seorang pria memelihara wanita kesayangannya dan jika ia mampu memberi mereka makan, ia juga akan mempunyai beberapa wanita lagi, ditambah serangkaian hubungan seksual di luar itu.
Pernikahan modern merupakan sebuah ciptaan dari impian ideal menurut Judeo-Christian dan merupakan ending dari sebuah pencariaan. Dengan meyakinkan dua orang dewasa untuk bersetia pada serangkaian peraturan yang meminta kepatuhan kepada Mori Keraeng (Tuhan) maka anak-anak hasil pernikahan akan secara otomatis terlahir dan beragama seperti orangtua mereka (pendapat klasik biasanya seperti ini, namun untuk zaman sekarang orangtua akan berpikir dua kali jika ingin mengunakan konsep klasik ini). Ketika kegiatan manusia mana pun, diselimuti oleh ritual-ritual yang rumit dan deklarasi umum, biasanya itu berlawanan dengan biologis kita dan ritual itu juga memaksa orang untuk melakukan apa yang tidak biasanya mereka lakukan.
Burung-burung tidak memerlukan upacara rumit ketika mereka ‘kawin’, meski itu adalah kegiatan alamiah mereka. Untuk memaksakan hewan poligamus seperti bendol…….eh salah ‘mbeeeeee’ (kambing) jantan agar menyetujui sebuah kontrak untuk menikahi seekor mbe betina itu adalah hal yang sama anehnya.
Ini bukan untuk mengatakan bahwa pernikahan tidak ada artinya bagi masyarakat modern. Saya, penulis juga akan menikah.

Pernikahan memiliki sisi baik. Mengajarkan Anda akan kesetiaan, kesabaran, toleransi, penguasaan diri dan kebaikan-kebaikan lainya yang tidak Anda perlukan jika Anda tetap melajang.
Apa sich keuntungan pernikahan bagi seorang pria? Dalam istilah dasar evolusioner, toe keta manga (tidak ada sama sekali). Seorang pria seperti seekor ayam jantan yang memiliki desakan untuk menebarkan benih keturunan seluas mungkin dan sesering mungkin. Namun mayoritas pria masih menikah dan pria yang bercerai akan menikah lagi atau hidup dalam pura-pura menikah. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan masyarakat yang hebat untuk mengendalikan pria yang memiliki dorongan untuk ngedeng (bersetubuh/bersenggama) dengan sipa saja. Lebih cocok dengan pendapat klasik yang mengatakan bahwa ‘laki-laki ingin bercinta tanpa dihalangi cinta’, perempuan hanya ingin bercinta atas dasar cinta, pengecualiaan ketika perempuan itu placur yang professional.

Seks adalah harga yang dibayar wanita untuk pernikahan. Pernikahan adalah harga yang dibayar pria untuk seks.
Ketika ditanya apa yang ditawarkan pernikahan pada anda? Kebanyakan pria akan menggumam sesuatu tentang memiliki tempat pulang yang hangat dan aman, makanan yang dimasakan bagi mereka, pakayan mereka disetrika. Pada umumnya mereka menginginkan sosok ibu sekaligus pelayan pribadi.
Psikoanalisa, Sigmund Freud mengatakan bahwa pria seperti itu mungkin memiliki hubungan ibu/anak laki-laki dengan istrinya. Hanya sekitar 22 orang dari seratus pria yang mengatakan bahwa mereka memperlakukan pasangan mereka sebagai sahabat. Sahabat dari seorang pria biasanya laki-laki juga, karena saling mengerti proses berpikir masing-masing.
Ketika wanita ditanya, Siapa sahabat anda? 86 % dari seratus orang wanita menjawab, sahabat mereka adalah teman wanita mereka, dengan kata lain seseorang yang memiliki otak yang sama.
Jajak pendapat membuktikan, bahwa, pria yang menikah melakukan ngedeng lebih sering dibandingkan dengan mereka yang tidak menikah. Pria yang menikah berusia 25-50 tahun, mereka melakukannya rata-rat tiga kali seminggu kalaupun lebih itu bonus, sementara separuh dari pria lajang yang mendapatkan sebanyak itu (kantong tebal/ lagi tanggal muda). Rata-rata pria lajang hanya melakukannya seminggu sekali tetapi tidak pada akhir bulan…hhhhhmmmm. Pada tahun 1999 di Australia 20 % dari pria lajang tidak melakukan ngedeng dalam tahun itu, dan tiga persen dari pria menikah juga begitu. Seperti yang telah kita diskusikan diketahui bahwa seks sangat baik untuk kesehatan. Pria lajang atau duda lebih sering meninggal muda dibandingkan dengan pria yang menikah.

Wanita membutuhkan monogami, mengapa?
Walaupun pernikahan dalam masyarakat barat telah menjadi harimau tak bergigi (bukan Albert) dari persepsi hukum, hal itu masih merupakan ambisi dari kebanyakan wanita dan 91 % orang masih ingin menikah. Itu karena, bagi wanita pernikahan adalah pernyataan pada dunia bahwa seorang pria menganggapnya ‘istimewa’ dan berniat memiliki hubungan monogami dengannya. Perasan menjadi ‘istimewa’ ini memiliki efek dramatis pada aksi kimiawi dalam otak wanita yang telah terbukti oleh penelitiaan. Riset-riset telah menunjukan bahwa orgasme seorang wanita rata-rata empat hingga lima kali lebih tinggidi atas tempat tidur pernikahan dan dua hingga tiga kali lebih tinggi dalam sebuah hubungan monogami.
Ada perasaan di antara orangtua bahwa orang muda berpendapat kalau pernikahan merupakan sebuah institusi yang ketinggalan zaman. Hasil penelitian juga berkata bahwa kalau persahabatan adalah hal yang lebih penting daripada hubungan seksual bagi 92 % dari masing-masing gender. Kemudian, ketika membicarakan gagasan menikahi satu orang saja sepanjang hidup, 86 % wanita dan 75 % pria menyukai gagasan itu. Hanya 35 % dari pasangan itu merasa bahwa hubungan masa kini lebih baik dibandingkan generasi orangtua mereka. Kesetiaan adalah prioritas tertinggi bagi wanita. Berdasarkan tingkat usianya, berkesimpulan bahwa semakin muda usia seorang wanita semakin kuat juga mereka dalam menghadapi pria yang tidak setia dan semakin penting pula nilai kesetiaan dan monogami bagi mereka.
Itulah perbedaaan yang tidak pernah dimengerti pria. Mayoritas orang percaya bahwa memiliki hubungan ringan dengan orang lain selain pasangan mereka tidak akan memengaruhi hubungan mereka. Karena pria memiliki masalah kecil dengan pemisahan antara cinta dan seks dalam otak mereka. Bagi wanita, seks dan cinta saling terkait. Sebuah hubungan kecil dengan wanita lain dapat dianggap sebagai pengkianatan besar dan merupakan alasan kuat untuk mengakhiri sebuah hubungan.
Jika pernikahan gagal sering terjadi, mengapa begitu banyak orang yang tetap melakukannya? Mengapa tidak hidup sendiri atau dengan keluarga atau dengan teman dan hanya memiliki kekasih-kekasih jika sedang ingin? Ada dua jawaban : pertama, pernikahan yang bahagia dan stabil terus merupakan cara yang paling baik untuk membesarkan anak-anak yang bahagia dan sehat. Kedua, pernikahan dapat memiliki efek menentramkan jiwa dan jasmani.

Pria menolak komitmen, mengapa?
Seorang pria yang menikah atau berhubungan dalam jangka waktu panjang selalu secara diam-diam mengkuatirkan kalau-kaalu pria lajang mendapatkan seks lebih baik dan lebih banyak darinya. Ia ingin membayangkan pesta-pesta gila kaum lajang, petualangan-petualangan, berpacaran bebas tanpa komitmen dan sebagainya. Ia takut kesempatan-kesempatan seperti itu akan terlewatkan begitu saja, sementara dirinya betul-betul rugi. Walaupun sebenarnya ketika ia masih lajang kesempatan-kesempatan itu juga tidak pernah mendatanginya. Ia juga lupa tentang malam-malam ketika ia harus duduk sendirian makan latung tapa (jagung bakar) rasa malu karena ditolak wanita di pesta teman-temanya dan dalam jangka waktu yang lama tanpa kegiatan seksual. Ia hanya tidak dapat berhenti menyesali, mengapa komitmen artinya merugi.


Created by : Walteriano Rahmino Janu Pangul

No comments:

Post a Comment