silahkan mengklik

December 11, 2009

SEJARAH GERAKAN MAHASISWA INDONESIA

SEJARAH GERAKAN MAHASISWA INDONESIA
Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa, Yogyakarta, 08 April 2008: Terry Pangul

I. ZAMAN BERGERAK 1912 - 19262

“BERJUANG MELAWAN KEKUASAAN = BERJUANG MELAWAN LUPA”

Salam dan Bahagia
Gerakan Rakyat yang tampil dalam bentuk-bentuk seperti surat kabar dan jurnal, rapat dan pertemuan, serikat buruh dan pemogokan, organisasi dan partai, nyanyian, teater, novel dan pemberontakan, merupakan fenomena yang paling mencolok bagi kebangkitan “Bumiputra” pada awal abad XX. Fenomena yang sampai saat ini disebut sebagai “pergerakan”, dimana “Bumiputra” bergerak mencari bentuk, untuk menampilkan kesadaran politik mereka yang baru, menggerakan pikiran dan gagasan, dan mengahadapi kenyataan di Hindia (Indonesia pada masa itu) dalam dunia dan zaman yang mereka rasakan bergerak. Dalam Historiografi ortodoks yang diyakini bersama baik oleh orang-orang Indonesia maupun para Indonesianist (ahli tentang Indonesia), pergerakan sering dilihat sebagai gerakan dimana sebuah bangsa yang belum bernama sedang mencari namanya; Indonesia, dan cita-cita nasionalnya; Indonesia merdeka !
Dalam pandangan ini, Pergerakan dimulai dengan surat-surat R.A Kartini dan pembentukan Boedi Oetomo, ketika kebangkitan nasional pertama kali ditampilkan dalam bentuk organisasi, dan berakhir dengan didirikanya Perhimpunan Indonesia dan Partai Nasional Indonesia serta Sumpah Pemuda, ketika para pemuda menyatakan diri Bertanah Air satu, Berbangsa satu dan Berbahasa Satu. Dengan begitu dalam dua puluh lima tahun pertama abad XX, pergerakan dipandang sebagai sebuah transisi, denagan pengertian bahwa telah ada gagasan Nasional sekalipun belum benar-benar nasionalis. Dalam sejarah dapat dipahami melalui hasil yang kemudian dicapai, yaitu ditemukannya cita-cita nasional; Indonesia merdeka. Hasil lain adalah tradisi yang terbentuk dalam pergerakan yakni sistem pembagian yang berdasarkan ideology dan organisasi menjadi nasionalisme, islam, dan komunisme.3
Pada masa itu lahir berbagai macam organisasi pergerakan. Masing-masing berproses secara mandiri dan dengan tahapan yang baik untuk bisa disebut sebagai Organisasi pergerakan sehingga menjadi organisasi kader berbasis massa. Syarat minimal sebagai tahapan tersebut adalah IPO: Ideologi/gagasan, Program perjuangan, dan organisasi. Sebagai contoh: Sarekat Islam (SI). SI tumbuh dan berkembang dari Rekso Roemekso pada awal 1912. Rekso Roemekso, yang didirikan oleh Haji Samanhoedi besama beberapa saudara, teman dan pengikutnya, adalah sebuah perkumpulan tolong-menolong untuk menghadapi para kecu yang membuat daerah Lawean tidak aman, agaknya karena pencurian kain batik yang dijemur dihalaman tempat pembuatan batik. Seperti yang diperlihatkan oleh namanya, “penjaga “, adalah sebuah organisasi ronda untuk keamanan daerah.
Rekso Roemekso, sebuah organisasi ronda dibungkus dalam bahasa modern dan diberi nama baru, Sarekat (Dagang) Islam. Hal itu dikarenakan kasus hukum kolonial pada saat itu yang melarang munculnya organisasi politik sehingga diimbuhi kata dagang. Pendirinya: Tirtoadhisoerjo, K.H Samanhoedi dan beberapa yang lain, pada 9 November 1911. Dalam bunyi pengantar AD/ART pembentukan SI : “semua orang sudah tahu bahwa sekarang ini adalah zaman kemajuan tidak boleh hanya menjadi omong kosong saja. Untuk itu kami memutuskan untuk membentuk perkumpulan Sarekat Islam. “artikel 1 anggaran dasar ini menyatakan bahwa perkumpulan dapat didirikan di mana saja dengan lima puluh anggota, dan tujuan perkumpulan harus “membuat anggota perkumpulan sebagai saudara satu sama lain, memperkuat solidaritas dan tolong-menolong di antarumat Islam, dan mencoba mengangkat rakyat untuk mencapai kemakmuran, kesejahteraan, dan kejayaan raja melaui segala cara yang tidak bertentangan dengan hukum negara dan pemerintahan.”….
Organisasi terus berkembang hingga mencapai Ratusan ribu anggota pada masa itu. Dibagi dalam Afdeling (dewan daerah) masing masing. Dan setiap afdeling mampu melakukan Vergadering (Rapat umum di sebuah lapangan luas antara pemimpin organisasi dan Massa simpatisannya) dengan jumlah anggota yang hadir hingga puluhan ribu orang. Melakukan aksi-aksi pemogokan, pemboikotan, penyebaran surat kabar, berkesenian dan lain-lain.
Semua dapat dicapai melalui keseriusan dan disiplin yang baik sebagai modal utama keberhasilan pengorganisasian dan pencapaian program perjuangan yang bertahap dan jangka panjang. Hal itu berkat adanya gagasan yang kuat, organisasi/kerjasama yang baik dan Program perjuangan yang jelas dan bertahap.
Pada Zaman itu kita mengenal Tokoh-tokoh sebagai motor penggerak perubahan yang terlahir dari kebijakan Politik Etis Kolonial. Para tokoh merupakan kalangan terdidik pada masa itu, mereka adalah pelajar dan mahasiswa lulusan dalam dan luar negeri yang memiliki kesadaran akan nasib bangsa dan tanah airnya. Namun, tidak semua tokoh yang ada merupakan Intelektual Jebolan sekolahan. Kita mengenal nama seperti Semaun yang lahir dari didikan/kader HOS Tjokroaminoto. Juga Soekarno. Selain sekolah Ia matang dalam asuhan Tjokro dan Organisasi (Sarekat Islam), satu lagi murid Tjokro adalah Karto Soewirjo. Ketiganya dikemudian hari berhasil menyemaikan tiga pondasi kuat gagasan besar nasionalisme oleh Soekarno Dengan PNI-nya, Semaun dengan Komunismenya (PKI), dan Kartosoewirjo dengan Islamismenya. Hal itu tak terlepas dari didikan Tjokro yang mengarahkan pemahaman sosial masing-masing dengan pengetahuan/gagasan besar seperti Marxisme (Sosialisme dan komunisme), Pemikiran Islam dan tokoh-tokoh pemikir Islam juga gagasan kebangsaan yang sedang berserak di hampir semua negara terjajah (Koloni Imperialis) di wilayah Asia dan Afrika. Juga ada sederet tokoh besar dan legendaris lainnya seperti: Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, dll (baca buku-buku yang banyak beredar saat ini.)
Itulah sekilas ciri khas pergerakan kaum muda yang dimotori kaum tercerahkan oleh pengetahuan dan pergaulan Organisasi yang membebaskan pada massa Sebelum kemerdekaan.



II. ZAMAN REVOLUSI KEMERDEKAAN

Hasil Dari perjuangan Tokoh penggerak adalah kemerdekaan bangsa dan tanah air dari kolonialis Eropa, dan Jepang. Sesudah kemerdekaan ada dua perubahan yang terjadi yang pertama bersifat nominal: Munculnya cara pandang Indonesia dengan mengganti Kata kunci yang sering didengungkan pada masa kolonialisme. Seperti Hindia Belanda menjadi Indonesia, Inlanders (bumiputera) menjadi “Orang Indonesia”, pergerakan bumiputra menjadi kebangkitan nasional Indonesia, dll. Perubahan kedua yang lebih penting adalah: lahirnya sistem klasifikasi baru yang berdasarkan Organisasi dan Ideologi: nasionalisme, Islam dan komunisme. Perubahan ini terjadi karena kategori rasial jelas bersifat kolonial, jadi jelas harus ditolak, dan juga karena sistem klasifikasi nasionalisme, Islam, dan komunisme sudah menjadi sesuatu yang diterima umum sejak pertengahan dekade 1920-an dalam wacana politik Indonesia.
Kemerdekaan tidak lahir semata-mata oleh teks proklamasi yang dibacakan oleh Dwitunggal pemimpin Indonesia Soekarno-Hatta. Di balik itu ada peran pemuda yang mendorong dan mempelopori Soekarno-Hatta untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang. Hal itu agaknya dilakukan oleh pemuda Wikana, pemuda Soekarni dan kawan-kawan yang menculik Soekarno Hatta untuk membacakan Proklamasi kemerdekaan. Kedua pemuda mendapat bacaan realitas politik Asia Tenggara Oleh Ibrahim Datuk Tan Malaka mantan ketua Komintern (Komunis Internasional) Kawasan AsiaTenggara yang ikut berjuang membebaskan Filipina, perjuangan rakyat di Cina, Vietnam dan negara Lain (baca Dari Penjara kepenjara, ottobiografi Tan Malaka). Sepulang dari Asia Tenggara (1942) Tan Malaka Menulis dengan mengembangkan rumusan ilmu dalam kalimat “Jembatankeledai” menjadi buku yang diperuntukan bagi penyadaran/transformasi rakyat Indonesia “Madilog” (Materialisme, dialektika, Logika) agar terbebas dari feodalisme dan penjajahan. Tan Malaka memberitakan akan rencana pengeboman Heroshima dan Nagasaki oleh Amerika untuk menghentikan perang dunia II (PD II) dan balasan atas penyerbuan pangkalan Amerika di Pearl Harbour oleh Jepang. “Peta Politik” digelar dengan rapi di atas meja pemikiran pemuda-pemudi kader yang dididik oleh Tan Malaka. Hal itu membersitkan ide untuk mengambil kesempatan jika saat itu terjadi. Yang menurut hitungan politik mereka akan terjadi pada sekitar pertengahan agustus 1945. Kesempatan untuk menyatakan kemerdekaan. Tanpa hitungan politik yang cermat seperti itu akan ada kesulitan untuk berharap kepada para generasi tua (Soekarno Hatta pada saat itu tahun 40-an termasuk golongan tua). Itulah bukti peran pemuda pelopor perubahan sejarah bangsa (Agent of social Change) Revolusi kemerdekaan lahir dari kepala mereka yang terdidik untuk mengabdikan pemikiran dan pengetahuannya demi cita-cita nasional bangsa dan rakyat Indonesia.

III. GERAKAN MAHASISWA ’66: KONTRA REVOLUSIONER

REVOLUSI BELUM SELESAI.! Itulah kata terakhir Bung Karno dalam pembelaannya di ruangan Sidang Istimewa MPRS yang dipimpin oleh A.H Nasution yang dikenal dengan pidato “Nawaksara”. Bung Karno presiden, Pemimpin besar Revolusi RI dipaksa mundur dari jabatannya atas desakan massa yang digalang oleh mahasiswa UI di Jakarta dari markas besar komando cadangan strategis angkatan darat (KOSTRAD) dengan trituranya: Tiga Tuntutan Rakyat: Turunkan Harga, Bubarkan PKI, Bubarkan kabinet 200 menteri dan isu tambahan mereka adalah Turunkan Soekarno! Kelompok muda mahasiswa yang terdidik termanfaatkan oleh kekuatan militer (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia terbentuk berkat Mayjend Soegandi di Kodam Siliwangi Bandung)4 yang ingin mengambil alih kekuasaan pada saat itu dengan bantuan Amerika secara konspiratif dengan kekuatan Intelejen. Dengan mengamputasi salah satu dari kekuatan utama pendukung Soekarno yang anti terhadap ekonomi politik Amerika yaitu PKI maka Amerika memulai pemerintahan bonekanya (Puppet Regime) lewat orang ambisius dan haus kekuasaan dan militeristik seperti Soeharto dengan back up politik agen (comparador) kapitalis Amerika, seperti Ali murtopo, Noegroho Notto Soesanto dan para aristocrat/ekonom berfaham liberal yang biasa disebut “Mafia Barkelley”: M. Sadli, Widjojo Nitisastro, Emil Salim, dan kawan-kawan. Mereka menerapkan Developmentalisme sebagai strategi Politik Ekonomi Orde Baru yang melahirkan KKN dan Utang.
Teramputasinya perjuangan kemerdekaan 100% bagi rakyat dan revolusi kemerdekaan oleh kekuatan muda pembaharu angkatan ’66. memutar balik keadaan perjuangan rakyat semesta oleh Regim boneka, militeristik yang ditopang oleh Militer, 3 Partai boneka, dan birokrasi KKN, semakin hari menjadi Totaliter dan berhasil menciptakan pembodohan dan menciptakan politik massa mengambang, demokrasi prosedural dengan menutup partisipasi rakyat. Maka refleksi historisitas itulah yang mencatat bahwa gerakan mahasiswa ’66 merupakan gerakan kontra revolusi.

IV. GERAKAN MAHASISWA PASCA ’66: KRITISI NEGARA ORDE BARU DAN ANTI NEGARA ORDE BARU5

Pada masa Rezim Orba yang Totalitarian di bawah Soeharto, kekuatan politik dapat dijinakan dan dikontrol oleh kekutan represif militer di bawah komando tentara yang sudah jauh dari cita-cita tentara revolusi Panglima besar Soedirman yang diperuntukan untuk melindungi, mengayomi dan mengamankan negara dalam mencapai cita-citanya. Namun tetap saja ada kekutan kecil tak terlihat yang selalu menghitung secara cermat kebijakan dan peta politik penguasa Negara Orde Baru (NOB). Pasca pemberangusan kekuatan pelopor; PKI. Kekuatan nasionalis-Soekarnois juga dipinggirkan dan ditenggelamkan perlahan dari sejarah bangsa, nama tokoh revolusioner seperti Tan Malaka, Semaun, Alimin, Tjokroaminoto, Darsono dll menjadi terlupakan dan generasi tak mengenalnya lagi sebagai tokoh pelopor zaman baru hingga lahir zaman kini. Kekuatan Islamis tradisionalis dipinggirkan dan ditinggalkan roda (pembangunan) developmentalisme dengan stigma “kampungan, kaum sarungan,” Sehingga lahirlah kalangan kaum menengah Borjuis lokal hingga konglomerat (Crony Capitalism) dari kalangan dekat kekuasaan, NOB menciptakan sistem mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan (Oligarkis), makna gotong royong dan kekeluargaan dipelintir menjadi koncoisme (Nepotisme) padahal itu adalah ciri sosialisme asli bangsa Indonesia. NOB melakukan rekodifikasi per-undangan kolonial Belanda dengan merancukan dan menghancurkan sistem hukum, merusak tatanan PerUndang-undangan dengan lahirnya Ribuan TAP/MPR berpihak pada kekuasaan. Pancasila menjadi nilai yang “basi” bagi generasi muda karena dijadikan doktrin tak berakar dan formalitas kenaikan jenjang jabatan/kedudukan dengan Santiaji lewat Penataran P4.
Di tengah-tengah kekutan politik yang hipokrit dan suburnya budaya pembodohan dan pemiskinan massa. Maka di tengah-tengah situasi ketertindasan, penghisapan yang tercipta di mana kaum tani (Mayoritas rakyat), kaum buruh, kaum miskin perkotaan, para pengangguran belum menemukan kawan maka kaum muda -sadar- diharapkan muncul sebagai pelopor dan kawan bagi perubahan kesadaran dan pembebasan dari massa, oleh massa dan untuk massa. Di situlah bertemu sebuah penderitaan dan pengetahuan sehingga melahirkan kesadaran. Mendobrak kebekuan kebuntuan (Kuldesak) dan kegamangan (malaise) menuju pencerahan bersama, membuka zaman baru yang lebih humanisme.
Munculah kekuatan kecil kesadaran dari beberapa mahasiswa untuk berjuang merubah keadaan, di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Makassar, dan kota lainnya. Dengan mengkritisi pertarungan modal Asing yang ingin menguasai Indonesia antara modal Amerika dan Jepang khususnya sekaligus Cina lokal maka pecahlah demonstrasi besar gerakan mahasiswa ’74 sebagai salah satu momentum pada angkatan 70-an yang berakhir dengan provokasi militer sehingga terjadi kerusuhan dan pembakaran proyek senen di bawah komando Pangkopkamtib Soedomo. Lalu lahir momentum-momentum kecil di beberapa daerah baik itu kasus tanah, penembakan, penghilangan secara paksa beberapa pejuang lokal.
Operasi militer di Timor Timur dimulai lantas suhu provokasi terjadi juga di tanah rencong. Tahun 78, kekuatan kritisi NOB dan sebagian kecil kekuatan anti NOB muncul berdemonstrasi menolak pencalonan Soeharto untuk yang ke 3 kalinya di pemilu tahun‘79. namun karena persoalan eksistensi, arogansi dan provokasi dari luar kalangan pergerakan mahasiswa saling mendahului antara ITB dan UI juga UGM, USU Medan. Pemerintahan Otonom Mahasiswa di kampus dengan Dewan Mahasiswanya mampu mengorganisir kekuatan kritis maju untuk berbuat sesuatu. Pecah protes besar di ITB Bandung mendahului rencana bersama antara kaukus Jakarta dan Bandung sehingga gerakan itupun menjadi premature dan mudah dipatahkan.
Masuk pada decade 80 an pemerintah pada tahun 1984 di bawah otoritas Daud Joesoef sebagai menteri pendidikan menerapkan program Normalisasi Kehidupan Kampus dan membangun Badan Koordinasi Kampus yaitu Senat perguruan tinggi dan Senat mahasiswa untuk meredam aktivitas politik mahasiswa pasca 1978. Momentum terus terjadi dan akumulasi pecah pada tahun 1989 aksi mahasiswa menolak NKK/BKK mengakibatkan bentrok dan pemenjaraan mahasiswa seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Di Cina juga terjadi aksi demokratisasi untuk pemerintahan PKC (Partai Komunis China) yang berkuasa namun dilumpuhkan setelah berbulan-bulan mereka menduduki lapangan Istana kekaisaran Tiananmen dan dikenal dengan peristiwa Tiananmen. Hal itu tentu saja menjadi penyemangat dan inspirasi bagi banyak mahasiswa di luar Cina termasuk mahasiswa di Indonesia sendiri.
Pada pertengahan 80-an lahir gerakan mahasiswa yang dibungkus dengan organisasi Pers mahasiswa, forum diskusi dan keluarga mahasiswa. Mereka mengusung nilai kerakyatan, sadar dan maju (populisme, kritis, progressive dan revolusioner) dengan kesadaran seperti itu yang mengawal gagasan, namun pada urusan program perjuangan mereka sering terganjal oleh eksistensi, dan provokasi juga stigmatisasi/cap dari penguasa, ada sebuah adagium yang disetir dari hasil diskusi-diskusi penyadaran mereka yaitu “Apabila kita memberi makan orang miskin, kita akan disebut orang suci, namun apabila kita bertanya kenapa mereka lapar kita dicap komunis” hal itu mewarnai pola pergerakan dan mencirikan geliat massa dalam kelompok kecil-kecil namun pasti, melakukan transformasi terhadap kawan dan masyarakat. Sementara penguasa mengkonsolidasikan kekuatan oligarkinya maka oposisi harus melakukan hal yang sama dan lebih baik dari masa yang lampau kita harus belajar dari refleksi sejarah gerakan yang bertahun-tahun terputus dan selalu dipenuhi ketidak-sambung-an dan kesalahpahaman. Yang harus dibangun adalah kewaspadaan (kesiap-siagaan) bukan kecurigaan sesama kawan namun hal itu sulit dilakukan karena penguasa mampu melakukan infiltrasi yang mendasar pada gerakan mahasiswa. Sehingga generasi muda yang lahir pada masa NOB memiliki bakat terbesar “pragmatisme” (cara berfikir yang instan dan ingin selalu memperoleh hasil tanpa kerja, atau ingin langsung hasil yang jadi, konkrit di depan mata) hal itulah yang menyuburkan budaya ketidaksadaran massa, pengetahuan yang pasif dan penuh keragu-raguan. Pengekangan generasi tua telah menyuburkan ketertiduran panjang pelopor-pelopor perubahan, pembangunan meninabobokan kreativitas dan inovasi kaum muda. Menjerat dengan hutang dan kemiskinan massal. Sementara segelintir orang berkuasa atas modal/rejeki orang banyak.
KETIKA DEMOKRASI MENJADI OMONG KOSONG, KETIKA PENDIDIKAN HANYA MENJADI BISNIS, KETIKA LAPANGAN KERJA DITENTUKAN MODAL ASING, KETIKA BURUH TERHISAP DIBAYAR MURAH, KETIKA PETANI TERAMPAS HAKNYA, KETIKA PENGUASA TERUS MENIPU DAN TAK TERSENTUH HUKUM YANG ADIL, KETIKA KEDAULATAN MENJADI MIMPI, KETIKA KEADILAN MENJADI HARAPAN, KETIKA GENERASI DILINGKUPI MIMPI BURUK AKAN MASA DEPAN… KETIKA HATI BERGETAR MENYAKSIKAN PENDERITAAN BANYAK ORANG…
Kita harus bangkit melawan, Orang-orang harus dibangunkan, kebenaran harus dikabarkan. Suara itu membangunkan sekelompok mahasiswa dalam kerangka Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI) pada tahun’94 menggugat soeharto dan menyerukan untuk sidang istimewa bagi penguasa NOB itu, perubahan 5 UU Politik, dan Pembubaran lembaga teritorial dan ekstrajudicial ABRI (Dwi Fungsi ABRI). Penangkapan 21 mahasiswa dengan ganjaran 8 hingga 14 bulan penjara menghentikan langkah kesatuan jaringan mahasiswa antar kota tersebut Sampai pada saat ketika kekuatan modal kapitalis global menerjang kekuatan kropos ekonomi tak bertiang NOB luluh lantak oleh Krisis. Gerakan yang selama ini tercecer dan berserak mulai terbangun satu-satu. Inilah saatnya!
24 April terjadi tragedi yang kita kenal dengan “AMARAH” April Makasar Berdarah Di UMI (Universitas Muslim Indonesia) 3 mahasiswa menjadi korban penyerbuan aparat ke dalam kampus. 27 Juli 96 pecah provokasi. Penguasa merekayasa sebuah miniatur skenario yang pernah membawa NOB berdiri tegak dibantu Amerika 30 tahun kebelakang, ketika kekuatan nasionalis mulai menguat politik devide et empera tehadap Partai Demokrasi Indonesia memicu dukungan kelompok muda dan berakhir dengan penagkapan, pengkambinghitaman dan kerusuhan yang pasti selalu menelan korban tidak sedikit. Setelahnya adalah konsolidasi kembali.
Mahasiswa berkumpul kecil-kecil di dalam kampus masing-masing tergopoh-gopoh mereka mengorganisir kawan, satu demi satu mereka ajak aksi dalam kampus, gerak mereka tidak seperti romeo yang sedang meminang Juliet (walaupun ada banyak juga yang seperti itu) tetapi mereka bergaul dalam menggapai kesadaran bersama meningkatkan kesadaran mistis menuju kesadaran naïf untuk menjadi kritis. Pertemuan mereka adalah bangunan kesadaran dari kenyataan sehari-hari orang-orang di sekitarnya yang terbelenggu kehendak bebasnya oleh sistem totaliter. Kawan mulai berhasil digalang, lalu keluar melompati pagar-pagar menara gading kampus masing-masing dengan gagah berani. Berai jari-jemari tangan kirinya terkepal tinggi menjulang kelangit simbol perlawanan. Seakan-akan ingin segera menggapai kuasa rakyat.
Januari, Februari, Maret, April, Mei ’98 tragedi penembakan mahasiswa di Trisakti diikuti provokasi massa di tiap daerah hingga pecah kerusuhan dari massa yang selama ini memendam api penderitaan, ketidak adilan dalam dada mereka. Ratusan ribu mahasiswa terkonsolidasi tanpa aba-aba mereka marah, mereka meneriakan penguasa NOB harus turun dan diadili, harus bertanggung jawab dengan terikan “seret ke sidang istimewa!” aksi penelikungan gerakan mahsiswa dilakukan oleh orang-orang dekat Soeharto. Demi menyelamatkan bos mereka 12 menteri mengundurkan diri dipimpin Ginandjar karta sasmita, maka tuntutan mahasiswa dijawab dengan “lengser keprabon”+mandheg pandhito Durno. Itulah aksi penyelamatan Soeharto yang dilakukan orang dekatnya.dari tuntutan pertanggungjawaban dan pengadilan. Menaikan Habibie sebagai presiden secara cacat hukum. Perpecahan kelompok Mahasiswa Pasca pendudukan akibat infiltrasi dan lemahnya gerakan mahasiswa secara internal karena mengandalkan dan mendasarkan diri pada mobilisasi heroisme dan aktifisme massa.

V. BERKAWAN DAN MELAWAN6

Refleksi dari semua itu: Mei ’98 dan sebelumnya adalah pelajaran, organisasi, ideologi, dan program perjuangan adalah syarat minimal pergerakan kita harus memenuhi itu dengan sabar dan terukur pasti. Buang keragu-raguan, buang ketidak mengertian, bangun kesadaran, kikis eksistensimu, karena kita harus Berkawan dan Melawan! Kesadaran atas pembebasan Tanah dan Air Nusantara dari cengkeraman Neokolonialisme dan neoimperialisme7 sebagai tahap tertinggi kapitalisme dengan ideologi Neoliberalismenya.
Bangun Organisasi, Asah pengetahuanmu, Uji gagasanmu, Praktekan Revolusimu! Revolusi harus dimulai kembali, dipersiapkan dan dibangun. Revolusi bukan barang Import bahan bakunya banyak di negeri ini. Perubahan bukan hadiah dari siapapun, Ia harus direbut, diperjuangkan. Kesadaran bahwa perjuangan itu harus secara nasional, dengan organisasi nasional, harus muncul dan bersamaan jalanya dengan perjuangan demokrasi, dan perjuangan kerakyatan. Tiga hal utama yang selama ini ditiadakan semasa NOB berkuasa. Sejarah tidak boleh dilupakan, persatuan adalah sumber kekuatan, kejujuran dan kepercayaan harus didahulukan sehingga kita mampu memulai mencatat sejarah pergerakan, perlawanan Nasional, demokrasi, kerakyatan…. Singkirkan kepala batu!
Kerja pergerakan kita adalah: “mendidik rakyat dengan pergerakan dan mendidik penguasa dengan perlawanan!” Rakyat kuasa niscaya akan menjadi kenyataan. Kemenangan harus ada di pihak rakyat dan kejaliman-penindasan harus dikuburkan.

TUHAN SELALU BERSAMA ORANG-ORANG BERANI !



No comments:

Post a Comment