silahkan mengklik

March 13, 2010

Pendidikan Alternative Eksis di Luar Tamansiswa

Pendidikan formal yang diakui oleh masyarakat dan negara umumnya dikenal sebagai model pendidikan dengan strategi dan manajemen yang sangat bagus, bahkan sekarang produk-produk hukum lahir untuk mengatur sektor pendidikan di Indonesia, mulai dari UU guru, Sisdiknas N0. 23, BHP dan berbagai produk lainya dengan dalih agar pendidikan Indonesia menjadi lebih baik dan bisa bersaing di dunia internasional. Benar bahwa dengan adanya berbagai produk hukum yang mengatur sektor pendidikan di Indonesia bisa menjadikan pendidikan di Indonesia lebih baik, bahkan gaya pendidikan Indonesia sekarang sudah menyerupai gaya barat seperti America. Kita patut berbesar hati karena kita tidaklah harus sekolah atau kuliah ke Amerika sebab gaya pendidikan barat seperti amerika sudah bisa kita dapatkan di Indonesia.
Hadirnya UU BHP menjadikan sektor pendidikan kita (Indonesia) sebagai lahan bisnis bagi para kapitalis berambut hitam, seperti yang pernah dilontarkan Presiden SBY dalam sambutan pada Rakernas HIPMI yang disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun TV swasta nasional belum lama ini yang dalam sambutannya mengatakan bahwa adik-adik HIPMI di pundak adik-adik semualah masa depan bangsa akan jadi lebih baik, ada banyak hal, ada banyak bidang yang bisa dijadikan sumber pendapatan ….seperti bisnis di bidang pendidikan… Sampai disini, kontoversi UU BHP sepertinya tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa adanya BHP dapat beralihnya sektor pendidikan kita menjadi lahan bisnis kapitalis asing maupun lokal.
Dari penjelasan di atas, kita mungkin sepakat bahwa model pendidikan Indonesia seperti yang dikenalkan oleh mantan mendiknas Indonesia Ki Hadjar Dewantara yang juga sebagai bapak pendidikan nasional Indonesia dengan sistem among melalui tamansiswa sudah ketinggalan zaman dan tentuya tidak relevan lagi untuk diterapkan di Indonesia sekalipun bahwa sistem among sangatlah sesuai dengan mental dan budaya orang indonesia sampai saat ini, namun pada kenyataanya tamansiswa sebagai model pendidikan indonesia tidak cukup mampu untuk tetap dan terus mempertahankan apa yang telah diwariskan oleh Ki Hadjar Dewantara dan kemudian terjebak dan tunduk pada model yang diterapkan oleh pemerintah. Pada saat yang sama pula tansiswa juga ternyata tidak mampu menjadikan tamansiswa sebagai sebuah model pendidikan alternative. Akibatnya, banyak orang akhirnya tidak mampu untuk mengenyam pendidikan formal, belum lagi dengan tetap adanya UN yang kemudian menjadi standar yang berlaku dari Sabang sampai Merauke, hal ini tentu dapat menimbulkan efek psikis munculnya pesimis bagi peserta didik sebab hal-hal yang dipelajari bertahun-tahun akhirnya ditentukan dalam UN dalam beberapa jam saja.