silahkan mengklik

June 12, 2010

MANFAAT MEDIA MASSA UNTUK MENUNJANG PERKEMBANGAN REMAJA

Oleh: Walteriano Rahmino Janu Pangul

Suplai informasi semakin beragam, dan berbagai teknologi komunikasi ini semakin melayani kecenderungan manusia untuk semakin otonom dalam memperoleh informasi. Media interaktif memberi peluang bagi pengguna (user) untuk menentukan dan memilih informasi yang diperlukannya, kebebasan semacam ini akan merombak tatanan sosial. Motivasi pengguna tidak lagi dijawab dengan produk massal, yaitu media massa bersifat searah yang sering menimbulkan kemubaziran informasi itu. Produsen menyediakan informasi sebanyak-banyaknya, tetapi dengan
sistem akses, pengguna dapat mengambil yang diperlukannya saja. Efisiensi dalam pola komunikasi interaktif, menyebabkan media massa searah akan dianggap penghamburan enerji. Di lingkungan masyarakat manapun adanya, media massa merupakan pola komunikasi yang paling rendah penggunaannya di antara jenis-jenis komunikasi yang dijalankan anggota masyarakat. Meskipun cakupan distribusinya lebih luas, tetapi frekuensi penggunaannya kalah banyak dibandingkan dengan media sosial seperti komunikasi kelompok dan antar perorangan. Artinya proses komunikasi yang berlangsung dalam masyarakat sesungguhnya didominasi oleh komunikasi yang tidak menggunakan media massa. Setidaknya kalau dibuat peringkat pengunaan proses komunikasi berturut-turut adalah komunikasi intra-pribadi, antar-pribadi, intra-kelompok, antar-kelompok, intra-institusi, dan antar institusi. Komunikasi berlangsung dalam konteks situasi pribadi, kelompok dan institusi. Setiap tingkat situasi komunikasi ini memiliki karakteristik dan fungsi yang khas. Pada tingkat pribadi baik antar peribadi maupun dalam situasi intra kelompok dan institusi berfungsi pragmatis psikologis dan sosial, dan pada tingkat antar kelompok dan institusi berfungsi sosial.

Proses komunikasi menggunakan media massa ini terbatas dalam masyarakat, tetapi dalam hal pengaruh dianggap memiliki daya yang lebih besar. Posisi media semacam ini karena adanya paradigma yang dominan dalam melihat keberadaan media massa, yaitu sebagai faktor tunggal yang memiliki daya mempengaruhi sasarannya. Sejumlah ahli bahkan merumuskan komunikasi dengan media massa dengan pretensi untuk mengubah sasaran agar sesuai dengan kehendak komunikator. Paradigma ini menempatkan komunikan sebagai obyek yang pasif, yang dapat diubah dan dibentuk oleh pihak komunikator. Media massa dimaksudkan untuk mewujudkan kepentingan komunikator. Kepentingan ini dapat diartikan secara luas, mulai dari missi keagamaan, ideologi, sampai pragmatis ekonomi. Tradisi media massa di negara komunis dengan jelas dapat dilihat sebagai contoh soal (Siebert, Peterson, dan Schramm, 1956). Begitu pula halnya pola komunikasi pembangunan yang bertolak dari paradigma ini di negara berkembang, menempatkan gagasangagasan yang berasal dari atas sebagai pesan yang perlu dimasukkan ke dalam alam pikiran dan mengubah perilaku sasaran (Oepen, 1988). Kalau daya media massa dianggap lemah, dapat diagregasi oleh kader partai atau agen pembangunan yang menyebarkan gagasan yang sama. Sikap dasar dalam berkomunikasi semacam ini mewujud lebih luas dari sekadar yang dijalankan di negara komunis sebagai kegiatan propaganda ataupun komunikasi pembangunan di Negara berkembang. Paradigma ini juga menjadi dasar dalam proses komunikasi yang berorientasi kepada media. Rancangan media dan pesan komunikasi semata-mata bertolak dari kriteria komunikator. Pola ini analog dengan kesombongan pabrikan pada awal masa industri, yang semata-mata berorientasi kepada produk. Setelah barang diproduksi massal, dilancarkan iklan segencar gencarnya sampai konsumen terbentuk. Produk dan konsumen menjadi dua kutub yang dihubungkan oleh komunikasi yang mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku. Paradigma komunikasi yang berorientasi kepada kepentingan komunikator, sulit dipertahankan jika sudah berhadapan dengan masyarakat yang terbuka bagi segala media. Jika masyarakat dapat memilih media dan pesan, artinya suplai media dan pesan tidak tunggal, dengan sendirinya orientasi komunikasi juga harus disesuaikan. Komunikator tidak dapat mendikte masyarakat agar hanya menerima media dan pesan yang disampaikannya. Pada satu sisi media massa memang dapat dieksposkan kepada masyarakat, tetapi pada sisi lain seseorang dapat menentukan apakah akan membiarkan dirinya disentuh oleh suatu media. Dengan cara melihat ini ada paradigma yang cukup penting, yaitu yang lebih melihat motivasi khalayak yang akan menentukan fungsional tidaknya suatu media dan pesan (Blumler dan Katz, 1974). Dengan begitu kecenderungan khalayak perlu menjadi perhatian dalam merancang setiap pesan.