silahkan mengklik

July 31, 2010

Jujur, Adil, Tegas Ala Pong Harjatmo

Pong melancarkan aksi nekat untuk menyuarakan kekecewannya pada DPR.
Sabtu, 31 Juli 2010, 01:16 WIB
Ita Lismawati F. Malau

Pong Harjatmo (Neon Productions)
VIVAnews - Hari masih pagi. Berjalan santai, Pong Harjatmo mendekati gedung Kura-Kura Nusantara II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), usai jogging di Senayan. Seorang petugas pengamanan sempat menyapa Pong yang tenar sebagai artis di tahun 1980-an ini, tanpa curiga.
Tak ada yang memperhatikan gerak-gerik Pong, sampai artis kawakan ini berhasil memanjat gedung Kura-kura dan menorehkan tulisan tangan di atap gedung Dewan Terhormat dengan menggunakan cat semprot berwarna merah.

'Jujur, Adil, Tegas.' Tulisan ini kemudian membuat Pong berurusan dengan petugas keamanan gedung DPR, Jumat siang, 30 Juli 2010. Mengenakan kemeja putih, Pong digiring ke kantor pos Pengamanan Dalam (Pamdal) DPR.
Apa alasan aktor gaek melakukan aksi nekat ini? "Pemerintah dan anggota DPR tidak pernah tuntas melaksanakan tugasnya. Kasus Bank Century tidak selesai. Sekarang ditambah lagi banyak anggota dewan yang bolos," kata Pong menumpahkan keluh kesahnya. "Dengan menulis saja, sekarang sudah nggak didengerin. Jadi harus pakai tindakan langsung".
Sejumlah anggota DPR bereaksi dan mengecam aksi Pong yang dinilai merusak. "Motifnya itu cari perhatian saja," kata Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. "DPR ini rumah rakyat. Semua bebas menyampaikan aspirasi tapi jangan seenaknya".
Namun, tak semua rakyat sepaham dengan pendapat wakilnya di DPR. Mereka tidak setuju tindakan Pong dikategorikan vandalisme karena mencoret-coret fasilitas milik negara. Dukungan deras menghampiri artis yang sudah membintangi sekitar 50 film ini.

Di situs jejaring sosial Twitter dan Facebook, tindakan Pong mendapat apresiasi sangat luas. Di Facebook, sedikitnya empat grup mendukung Pong Harjatmo. Salah satu grup bertajuk 'Hidup Pong Harjatmo'.

Dalam hitungan jam sejak aksi Pong, pendukung grup ini terus bertambah. Salah satu Facebookers, Ady Pictureart menulis di wall 'Hidup Pong Harjatmo,' "terimakasih buat saudara Pong yang telah mewakili rakyat Indonesia untuk menampar DPR... Kalau perlu satu-satu anggotanya yang malas ditimpuk pakai sepatu...seperti mantan press USA."

Lalu ada Kris R Mada yang menulis, "lebih dari 60 judul film, sebagian sebagai pemeran utama, sungguh Pong Harjatmo tidak butuh popularitas lagi...."
Pong juga membantah berbagai tudingan anggota dewan bila aksi yang dilakukan sebagai vandalisme. "Itu dicat lagi dengan cat warna yang sama juga sudah beres," ujar Pong. Ia juga membantah mencari popularitas dalam aksi ini.

July 24, 2010

The Politics of Christianization in Albania

Published on:
Friday 22 Dec, 2006
Olsi Jazexhi

Since 1913, when the state of Albania came into existence, the only Muslim state of Europe has continuously been attacked by virulent Christian missionary organizations which aim to Christianize its population. The worst waves of Christianization has been after 1991, when the communist regime collapsed in the country. The communists, who destroyed Islam very badly in its religious and cultural infrastructure, created all the needed conditions for the Christianization of de-Islamized Albania. As Miranda Vickers points out in her book Albania: From Anarchy to a Balkan Identity, Albania of 1990’s became a battling ground for many Christian fundamentalist organizations, whose aim was to evangelize the lost Muslim populations of the Ottoman Balkans.
The Christian orders that invaded Albania ranged from the Christ’s Campus Crusaders, Jehovah’s Witness, Adventists, Mormons, Presbyterians and all other types of Christian Protestants which pumped up into Albania from the Christian belt of America as well as many western European countries. However the major players in the field of evangelization has been the old Orthodox and Catholic centers of Christianity which lie just next door to Albania: in Greece and Italy.
The methods that the Christian organizations use for converting Albanians in the religion of Christ, range from the rewriting of the books of the history, to the spread of hate –- anti-Islamic literature — to forced conversion into orthodoxy for the Albanians who want to get a staying permit in Greece, to political blackmails and door to door preaching. Protestant missionaries such as Edwin Jacque have written even a bestseller book on the Christianized history of Albania, while Catholic and Orthodox churches run a number of public schools, universities, radios and TV programmes.
The Christian proselytism receives political support even from the Western embassies that operate in Albania. This can be seen clearly in the politics of the US, Greek and Italian embassies. In the American embassy, in many cases people who get the top jobs there are Albanian renegades, like A. N. who is the closest adviser to US ambassadors. After denouncing Islam and working for Christian Protestants, he — as many other converts — become the most trusted adviser of the American ambassadors, and is a person who penetrates every meeting and backside deals that the powerful embassy carries with Albanian politicians and politics.
However the politics of the employment are not the only example. Other examples of US embassy’s religious propaganda can be seen in the organization of morning prayers that the embassy does time after time with Albanian politicians, ministers and the president with the help of top US preachers. But apart from the Americans, the Italians and Greeks also have a high profile in the support of Christian propaganda in the country. Thus, while the Italians have in many cases become the spokeperson of the Vatican in Tirana — as the example of 23 October 2005 showed — when the Italian ambassador organized the “Mother Theresa” marathon, the Greeks have always stood behind Archbishop Yanolatos and his aggressive propaganda against Islam in the country.
In places like in Korça, the Greek consulates are even built in the premises of the Orthodox Churches. The Greek embassy in every ceremony it organizes in the country has always the Greek bishops in its back and often it sends warnings to the Albanian state about the rights of its Greek Church in the country. The same can be said about the Italians who have in many cases sponsored building of Churches, sponsoring plenty of catholic religious programs and supporting through their institutions the propagation of the Catholic culture. In their embassy in Tirana, when one goes to obtain a visa, one can see how the walls of the embassy are hung with the portraits of Vatican’s saints.

“Presidennya Orang Miskin”

ISTANA UNTUK KAUM MISKIN
Kaki saya sudah berdiri untuk kaum miskin. Tidak mungkin kaki yang sama berdiri untuk dua tempat berbeda. Kalau saya berada di istana kepresidenan, posisi berdiri saya tetap untuk kaum miskin.

Oleh : Rikard Bagun/Kompas
SEMANGAT keberpihakan kepada kaum miskin itu antara lain ditegaskan Fernando Lugo Mendez dalam wawancara dengan wartawan Kompas, Kamis (14/8 ) di Rumah Induk Sociedad del Verbo Divino (SVD) di Asuncion, Paraguay, sehari sebelum pelantikannya menjadi presiden.
Malam sebelumnya mantan uskup itu membuat beberapa orang terperangah. Tidak lama setelah tiba di rumah pribadi milik keluarga di pinggiran Asuncion, Lugo bergegas meminta rekan dekatnya dalam gerakan sosial, Martin Bhisu asal Flores, Nusa Tenggara Timur, yang sudah menunggu lama, untuk cepat-cepat ke Rumah Induk SVD.
Tanpa pengawalan apa pun, Lugo menumpang mobil setengah pick-up, kendaraan operasional Martin Bhisu, menjelang tengah malam itu. Di samping Martin, duduk tokoh muda Indonesia, Budiman Sudjatmiko, sementara Lugo duduk di belakang bersama Kompas dalam perjalanan sekitar 40 menit itu.
Terasa sedikit tegang karena “nasib” pemimpin yang sedang populer di Amerika Latin itu berada di tangan tiga orang Indonesia. “Aduh kalau terjadi apa-apa,”terdengar suara bergumam setengah kecut.
Kamar tidur Lugo di Rumah Induk SVD kebetulan pula berdampingan dengan Martin Bhisu dan kamar Kompas, bahkan berhadapan dengan kamar penginapan Budiman.
Sama sekali tidak terlihat petugas keamanan khusus keetika Lugo berada di Rumah Induk SVD, tempat yang sering diinapinya sekalipun sudah terpilih menjadi presiden, April lalu. Kamarnya sangat sederhana, dengan tempat tidur kayu yang ditutupi busa tipis.
Kesederhanaan Lugo juga terlihat pada rumah kediaman yang dihibahkan keluarganya di pinggiran Asuncion, kota berpenduduk 600.000 jiwa itu.

Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan "Ngelmu"

Oleh Rikard Bagun
Ini salah satu artikel di Kompas hari ini (Senin, 14/07/2008).
Quite interesting..let me know what u think.

Tidak gampang menemukan rumpun kaum intelektual Indonesia yang duduk gelisah karena tergetar oleh momentum peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Benar-benar mati angin!
Gelora kegelisahan hanya bergerak sepoi-sepoi, tidak dapat diubah menjadi badai yang mampu memaksa kaum cerdik pandai duduk bersama, memandang dengan sorotan tajam masa depan bangsa, tanpa membiarkan sedikit pun mata terkedip bagi Indonesia yang lebih baik.
Resonansi atas kenyataan itu seakan bersahutan atau berbalas pantun dengan pertanyaan, mengapa Indonesia tidak bangkit-bangkit meski begitu banyak sarjana, kaum cerdik pandai, kaum intelektual, dan ilmuwan?
Indonesia masih terus saja berada dalam pusaran krisis bawaan sejak tahun 1998, yang diperburuk oleh kondisi global yang sedang dikepung oleh krisis pangan, energi, dan pergolakan keuangan. Paling tidak 34,9 juta rakyat Indonesia hidup miskin.
Celah perubahan dan perbaikan akan semakin sulit ditemukan jika kaum intelektual Indonesia kehilangan sensitivitas menangkap panggilan sejarah untuk melancarkan secara serempak transformasi sosial, budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang berjangkauan jauh ke depan.
Namun, siapakah yang pantas disebut kaum intelektual itu? Tidak ada rumusan baku, tetapi setiap orang yang melek huruf berpotensi menjadi intelektual, apalagi yang sudah sarjana.
Sudah menjadi kredo, kontribusi kaum intelektual bagi peradaban dan kemanusiaan dalam perjalanan panjang sejarah sangat menentukan sebagai keniscayaan, syarat mutlak, conditio sine qua non.
Namun, mengapa sulit sekali menemukan jejak kaum intelektual Indonesia, lebih-lebih setelah kemerdekaan.
Permainan waktu
Kelesuan itu terasa jelas pula dalam memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional sebagai momentum yang dikhawatirkan akan terancam hilang.
Gejala kedodoran itu terlihat dalam kerepotan menghadapi arus perubahan, yang sangat menuntut kecepatan, the survival of the fastest, yang bertahan yang paling cepat, ketimbang the survival of the fittest, yang bertahan yang paling kuat.