silahkan mengklik

February 4, 2011

DUBIUM METHODICUM


DUBIUM METHODICUM
techan pangul[1]

 “Problem Kesangsian dan Demokrasi”. Soal menyangsikan ini, aku teringat akan Rene Descartes (1596-1650), filsuf besar yang memperkenalkan ide filosofis terdahsyat, yang disebutnya ‘methodicum doubth’. ‘Kesangsian metodis’ terjemahannya. Menurutnya, kesangsian dapat dijadikan suatu metode filosofis untuk menguji segala kebenaran yang sudah dianggap tepat serta bersifat kekal.
Beliau mengajarkan kita tuk membimbangkan segala sesuatu, meragukan segala sesuatu, sehingga segala sesuatu itu tidak dapat diragukan lagi agu (serta) memposisikan kebenaran itu secara tepat. Kita harus mengambil ‘tempat intelektual’ yang tepat tuk menolak secara absolut segala sesuatu yang salah dan sesat. Meskipun nenggitu (demikian), kesangsian itu bukan sesuatu yang melantur begitu saja, melainkan sebuah argumentasi yang didasarkan pada studi yang runtut terhadap suatu kebenaran, keyakinan, dan ideologi. Baru pada tataran ini, kita boleh menyebutnya sebagai kesangsian metodis, serta menjadi absah dalam suatu diskusi ilmiah yang rasional dan merdeka.
Dengan gagasan di atas, dapat pula ditegaskan bahwa kesangsian metodis merupakan jembatan yang menghubungkan perjalanan menuju kebenaran. Lewat kesangsian metodis Descartes, kita diajak tuk membimbangkan semua keyakinan dan ideologi yang sedang kita agung-agungkan. Tentu saja, bukan apa-apa juga, hanya supaya kita meyakini semua itu secara benar, dari kejujuran hati nurani dan kecerahan budi yang membebaskan.
Keyakinan atau ideologi jangan pernah merepresi kemanusiaan kita. Sebaliknya, semua harus produktif dan konstruktif bagi kemanusiaan. Idoelogi yang telah dibenarkan dan dikultuskan membawa keselamatan harus senantiasa diuji muatannya. Caranya ialah dengan menyangsikan secara rasional, metodis, runtut dan kritis. Dengan itu, mungkin kita sedikit lebih mendekatkan diri pada suatu kebenaran hakiki universal tanpa ditunggangi oleh interese-interse pribadi atau golongan murahan.
Jika kita menganggap diri demokratis, maka kita harus siap menyangsikan keyakinan kita. Karena demokrasi menerima beda pendapat, maka ‘kesangsian’ pasti dapat kursi di dalamnya. Apabila demokrasi menerima sikap kritis, konsekuensinya demokrasi harus menyediakan kursi yang baik bagi tumbuhnya sikap kritis ‘warga demokrasi’ terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dianggap demokratis.
Dalam negara demokrasi pun, beda pendapat itu lumrah. Dan adalah hal yang wajar jika terjadi diskusi rasional atas satu problem atau kebijakan nasional tertentu, kampus pun demikian. Bahkan, diskusi seperti ini dilihat sebagai elemen substansial bagi tumbuhnya demokrasi jablai (sendiri, red). Setiap orang bisa mendiskusikan apa saja dan menyangsikan semua konsep pembangunan yang disodorkan rezim penguasa. Namun, tuk sebagian orang yang sudah mapan dengan sikap hidupnya, kesangsian itu akan dipandang sebagi hantu lesak leso (di siang bolong). Sebab secara fundamental, ‘kesangsian’ itu akan senantiasa mempertanyakan dan membongkar kemapanannya.
Ini mungkin sesuai dengan apa yang aku alami selama menjadi mahasiswa di kampus kebangsaan UST Jogja, “…agaknya, bukan menjadi rahasia lagi bahwa aktivitas perkuliahan kita dewasa ini, kadar ‘demokratis’-nya semakin menipis. Pada suatu kesempatan, aku menanyakan “suatu problem” yang aku anggap tidak jelas, meresahkan serta membinggungkan. Dengan suatu rasionalitas yang sudah sedikit terasah, ku coba membangun kerangka pemikiran saya. Aku meragukan “apa” yang telah dipaparkan dosen dalam kuliahnya. Keraguan itu ‘aku anggap’ bukan hanya sebuah ‘ide’ yang ngawur, melainkan suatu kesangsian pada argumentasi kritis. Sebab, jika tidak seperti itu, berarti aku merusak kadar intelektualitas aku sebagai mahasiswa.
Maf coy, ini mungkin aku menceritakannya secara blak-blakkan, tetapi tidak bermaksud tuk membolangkan (menelanjangi-red) situasi perkuliahan di Kampus Kebangsaan. Lanjut ya bro ceritanya, “……berbeda dengan perkiraan aku di atas, ki/ nyi…dosen ternyata menganggap kesangsian ku sebagai bentuk ‘menguji’ kemampuannya. Dan hal itu sangat menyinggung perasaannya. Apa yang telah aku sangsikan dianggap sebagai suatu ancaman serius bagi ‘kebenaran’ yang diyakininya. Lalu, aku didepak dan diangap tidak etis. Aku kecewalah coy. Ternyata ‘diskusi rasional kritis’ gampang direduksi ke dalam kenaifan psikologis yang mencair dalam ‘kemarahan infantil’. Resistensi psikologisnya sangat rapuh – mudah tersinggung – sementara konstruksi ilmiahnya mencemaskan aku sebagai mahasiswa. Kemerdekaan berpikir dan menyatakan pikiran telah dibungkam oleh suatu ‘kediaman’ demokrasi, nyatanya ‘merusaknya’ sedemikian parah, demi stabilnya keyakinan dan sikap yang dangkal dan tidak rasional”. Pengalaman ini tenyata tidaklah berhenti di sini, di ruang kelas tapi juga dalam ruang lain di kampus kebangsaan, berlanjut dan terus berlanjut dengan pemeran berbeda. Detik-detik terakhir pun aku masih mengalaminya dan mungkin juga teman-teman yang lain.
Jujur, aku merasakan penderitaan intelektual yang hebat, kegairahan intelektualku tidak digubris sama sekali dalam sebuah institusi akademis. Bukankah ini suatu ironi yang sangat transparan. Kampus yang dikenal sebagai ladang demokrasi secara menggelikan, nyatanya, tidak cukup demokratis juga. Beda opini sulit mendapatkan tempat dalam wilayah yang katanya sangat menghormati situasi tersebut.
Jika kebimbangan seperti ini sungguh dihargai maka kita bisa diluputkan dari keyakinan dan ideologi yang mungkin sudah sesat dan cendrung represif terhadap kemanusiaan kita. Dengan begitu, kesangsian akan menjadi semacam ‘mesin sortir’ bagi keyakinan kolektif yang sudah terkontaminasi debu-debu kepentingan individual dan golongan. Kesangsian akan mencuci semua kepalsuan politis yang tersembunyi di belakang jargon-jargon politik yang berserakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan misi kesangsian metodis di atas, maka dalam negara demokratis, tidak hanya teoritis tetapi juga perilaku manusia, kehadiran kesangsian metodis mudah diterima. Sebab, kesangsian metodis ala Descartes sangat produktif bagi tumbuhnya demokrasi. Kesangsian akan menggiring masyarakat pada pemikiran yang dari hari ke hari akan semakin rasional. Mendemokrasi akan menjadi prasyarat bagi setiap orang tuk hidup di alam kemerdekaan dan jauh dari ketakutan politis dan intimidasi ekonomis. Kesangsian bukanlah ancaman, melainkan ‘formula’ yang akan mendewasakan kultur demokrasi politik.
Dalam sebuah negara demokratis, yang berkutat sebatas sejuta konsep belaka tentang DEMOKRASI, kesangsian terhadap paket kebijakan akan dianggap sebagai ‘tidak etis’ dan ‘nonsense’. Jadinya masyarakat enggan bersuara lagi. Maka, sikap kritis menjadi begitu kerdil dan apatisme politik dalam membangun masyarakat semakin menumpuk. Jika sudah begini, frustasi-frustasi politik mudah disulut dan akan mencair dalam kebrutalan sosial massa. Dalam banyak situasi, kesangsian warga demokrasi terhadap keyakinan kolektif  telah dilihat sebagai ancaman bagi stabilitas sikap hidup pemegang sistem. Kesangsian dinobatkan sebagai ‘musuh’ terbesar kemapanan. Segala gejolak massa yang ingin mempertanyakan, mendiskusikan situasi dan cara hidup, akan direpresikan sekejam mungkin. Banyak penguasa dalam negara atau pun institusi ‘quasi-demokrasi’ (seolah-olah ada demokrasi), menolak argumentasi rasional menuju kebenaran hakiki secara kejam. Akibatnya, rakyat takut dan tanpa disuruh pun mereka pasti bungkam. Dalam negara ‘quasi demokrasi’ seperti itu, penguasa sangat pandai memproduksikan ketakutan massal.
Beda pendapat, apalagi yang namanya kesangsian itu, menjadi ‘jenasah’ dalam peti mati kekuasaan yang tidak boleh diretangi (ditangisi-red). Jika sudah begini, kita hanya bisa terpekur beku dalam tatapan mata kita, langkah kita, senyum getir kita, kerinduan kita pada demokrasi dan harapan kita pada ideologi serta seluruh ketidakberdayaan kita terhadap ‘koridor-koridor kekuasaan’ yang kehilangan keindahan demokrasi. Kita, WNI dan Para Dewantara Muda yang demokratis ini, tentu harus ekstra hati-hati, jangan sampai demokrasi yang kita anut akan ‘direduksi’ ke dalam ‘quasi- demokrasi’ yang cendrung brutal.

Tabe
Pojok Mapatris UST
Jogja, 01Februarii 2011


[1] Mahasiswa semester bablas Fak. Psikologi UST Jogja.