silahkan mengklik

May 10, 2011

Diaspora Tato yang Ubiquitas

Diaspora Tato yang Ubiquitas

             Sepanjang hayatnya, manusia tidaklah hidup dengan tubuh alamiahnya an sich. Manusia selalu memunyai dan menunjukkan ide, kreativitas, rasa estetik hingga rasa kemanusiaannya sepanjang peradaban, dapat dilakukan dengan menambah, mengurangi, mengubah bahkan mengatur bagian tubuh alamiahnya. Tindakan tersebut dapat dilakukan oleh individu, kelompok komunal, hingga negara, seperti yang dilakukan oleh Bangsa Yunani pada masa peperangan. Bangsa Yunani

menggunakan tato pada para prajurit sebagai sandi antara mata-mata. Bangsa Romawi membubuhkan tato pada kriminal dan budak (Olong, 2006), baik secara sukarela, wajib bahkan terpaksa. Pengubahan yang dilakukan manusia pada tubuhnya mempunyai tujuan beranekamacam, berubah dari masa ke masa serta berbeda dari area budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Bagian-bagian tubuh dapat ditato, ditindik (pierced), dicukur, diolesi minyak, diberi parfum, dibersihkan maupun dikotori.

              Pada kalangan intelektual seperti mahasiswa, sindrom ketertarikan terhadap tato juga sangat tinggi. Ketertarikan ini tentu beralasan mulai dari sekedar ikut-ikutan, petualangan, bakat, fashion hingga sebagai sebuah ekspresi seni. Pada kalangan mahasiswa sebagai kaum intelek dan calon pendidik keputusan untuk bertato bukanlah sebuah perkara yang mudah mengingat bahwa tuntutan sebagai seorang pendidik untuk menjadi contoh atau model bagi peserta didiknya masih sangat tinggi. Selain itu, persyaratan untuk menjadi pegawai negeri sipil atau pejabat pemerintah juga harus bebas dari hal-hal negatif termasuk tato masih tetap berlaku, anggapan atau stigma negatif terhadap tato masih sangat dominan di kalangan masyarakat luas. Harapan masyarakat akan sosok pendidik yang bersih, rapi dan tidak bertato tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan mahasiswa yang sudah memututuskan dirinya untuk bertato.
              Filsuf Thomas Aquinas (Sutrisno dan Verhaaak, 1993), menjelaskan pandangan tentang estetika sebagai “keindahan berkaitan dengan pengetahuan, individu menyebut sesuatu itu indah jika sesuatu itu menyenangkan mata sang individu”. Selain penekanan pada pengetahuan, yang paling mencolok adalah peranan subjek dalam hal keindahan. Menurut Clive Bell (Sutrisno, 1999) bahwa nilai estetika diperoleh melalui suatu pengalaman estetik, artinya bahwa seseorang hanya dapat tahu sesuatu itu kalau seseorang pernah mengalami estetis dan bukan karena diberi tahu.
              Tato kini mengalami pergeseran dan memasuki nilai antroposentris yaitu nilai yang tidak lagi dapat dipahami sebagai suatu bentuk kebudayaan dari suatu daerah tertentu saja, tetapi sudah menjadi budaya global. Sebelumnya tato bernilai religius trasendental yaitu sesuatu yang tidak dapat dipahami secara logika tetapi ‘harus’ diterima begitu saja sebagai suatu perintah agama atau keyakinan dan magis pada masyarakat suku bangsa pedalaman. Ketika tato tidak menjadi simbolisasi trend maka tato kehilangan nilai sakralitas dan masuk ke pelataran profan yaitu hal atau objek umum yang dianggap biasa. Pada akhirnya tato dipandang terdemistifikasi (terbantahkan) hingga masuk ke jurang stigmatisasi (pandangan umum, ajaran) negatif yang bernada klaim bahwa tato adalah cap penjahat, bajingan, gali  maupun  preman.
              Pasca runtuhnya rezim orde baru, udara segar kebebasan dan liberalitas tidak hanya dapat dinikmati oleh kalangan sadar hukum dan aktivis politik, namun kebebasan berekspresi juga melanda jugend (kaum muda) urban yang lebih agresif, reaksioner, atraktif terhadap situasi dan lingkungan. Salah satu bentuk nyata yang dilakukan adalah kian merebaknya tato dan tindik sebagai simbol yang dapat ditafsirkan bermacam-macam. Tato telah menjadi fenomena kebudayaan masif (sudah melekat atau tidak asing lagi) yang menimbulkan kesan interpretatif.
              Fenomena tato bukan dilahirkan dari sebuah tabung dunia yang dikenal dengan istilah modern dan perkotaan. Secara historis, tato lahir dan berasal dari budaya pedalaman, tradisional bahkan dapat dikatakan arkhais (kuno).  Kini  tato dan tindik seakan mengalami euforia (euphoria) dan perluasan makna ameliorasi (perubahan atau peningkatan nilai makna dari makna yang biasa atau buruk menjadi yang baik) yang demikian multidimensional yaitu wujud, bentuk, persepsi dan pengguna yang mendunia atau sebagai sesuatu yang populer. Dukungan terhadap tindakan tato  dan tindik pun semakin meluas, jugend merasa bahwa ketika atribut tersebut melekat di tubuh maka resistensi diri terhadap lingkungan tidak perlu terlalu dipikirkan, mengingat daya protes akan diimbangi dengan daya dukung komunitas bahkan dari kalangan keluarga.
              Perilaku dan gaya keseharian kaum tato dengan berbagai atribut lain yang dikenakan mewakili kebudayaan suatu kelompok masyarakat, dimana simbol-simbol yang disandang tersebut merefleksikan kehidupan di dalamnya. Chamberlain (Olong, 2006) mengatakan bahwa salah satu penyebab diterimanya budaya pop di kalangan jugend karena jugend dipandang mewadahi kebebasan berekspresi bahwa “satu-satunya bentuk kebudayaan yang masih dipedulikan oleh jugend yang mau menerima ide-ide radikal, yang banyak berperan penting dalam perilaku sosial untuk generasi muda, segala yang mengalir lewat musik punk, rock and rool seperti fesyen (fashion), bahasa gaul, perilaku seksual, mabuk dan gaya lainnya
              Sebelum tato dianggap sebagai sesuatu yang modis, trendi dan fashionable seperti sekarang ini, gaya tersebut memang dekat dengan gaya pemberontakan. Anggapan negatif masyarakat tentang gaya di atas seakan semakin diperkuat dengan berbagai larangan agama terhadap tato. Karenanya, menggunakan tato sama dengan memberontak terhadap tatanan nilai sosial yang ada dan akan dianggap sebagai tindakan yang devian.
              Hal-hal yang dianggap deviasi oleh institusi baik agama, masyarakat, maupun pendidikan tersebut, menurut Djalalludin Rahmat (Sutrisno, 1999), deviasi itu bagaikan proses ketika individu masuk thong thai chio (toilet). Hidung individu akan tersentak oleh bau yang tak sedap, namun lama-lama toh individu tidak merasakannya lagi karena individu tersebut mampu beradaptasi dengan keberadaan bau tersebut. Lama-kelamaan tato sebagai sesuatu yang devian akan menjadi pemafhuman dalam masyarakat seiring dengan kencangnya arus informasi dan globalisasi yang terjadi, namun pada kenyataannya masih sangat banyak mayarakat yang belum dapat menerima kenyataan tato sebagai sebuah budaya pop. Hal ini sangat besar dipengaruhi oleh tingkat pemahaman masyarakat yang mungkin sangat fanatik terhadap suatu ideologi yang memandang tato sebagai hal yang buruk, haram dan tidak boleh. Media-media pendukung penyebaran informasi juga tidak sepenuhnya dapat menjangkaui masyarakat, terutama masyarakat pedalaman.  

Created by: Terry Pangul, S.Psi 
              

No comments:

Post a Comment